- Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi didirikan pada tanggal 19 Desember 1949 dan merupakan Universitas yang bersifat nasional. Selain itu Universitas Gadjah Mada juga berperan sebagai pengemban Pancasila dan Universitas pembina di Indonesia Pada saat didirikan, Universitas Gadjah Mada hanya memiliki enam fakultas, sekarang memiliki 18 Fakultas, satu sekolah Pascasarjana (S-2 dan S-3), dan satu Sekolah Vokasi. Universitas Gadjah Mada termasuk universitas yang tertua di Indonesia, berlokasi di Kampus Bulaksumur Yogyakarta. Sebagian besar fakultas dalam lingkungan Universitas Gadjah Mada terdiri atas beberapa jurusan/bagian dan atau program studi. Kegiatan Universitas Gadjah Mada dituangkan dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
- Institute Teknologi Bandung (ITB) didirikan pada tanggal 2 Maret 1959. Kampus utama ITB saat ini
merupakan lokasi dari sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia.
Walaupun masing-masing institusi pendidikan tinggi yang mengawali ITB
memiliki karakteristik dan misi masing-masing, semuanya memberikan
pengaruh dalam perkembangan yang menuju pada pendirian ITB.
Sejarah ITB bermula seja awal abad kedua puluh, atas prakarsa
masyarakat penguasa waktu itu. Gagasan mula pendirianya terutama
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit
karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah
jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia
Pertama. De Techniche Hoogeschool te Bandung berdiri tanggal 3 Juli 1920 dengan satu fakultas de Faculteit van Technische Wetenschap yang hanya mempunyai satu jurusan de afdeeling der Weg en Waterbouw.
Didorong oleh gagasan dan keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan Proklamasi Kemerdekaan serta wawasan ke masa depan, Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung pada tanggal 2 Maret 1959 . Berbeda dengan harkat pendirian lima perguruan tinggi teknik sebelumnya di kampus yang sama, Institut Teknologi Bandung lahir dalam suasana penuh dinamika mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berpijak pada kehidupan nyata di bumi sendiri bagi kehidupan dan pembangunan bangsa yang maju dan bermartabat.
Kurun dasawarsa pertama tahun 1960-an ITB mulai membina dan melengkapi dirinya dengan kepranataan yang harus diadakan. Dalam periode ini dilakukan persiapan pengisian-pengisian organisasi bidang pendidikan dan pengajaran, serta melengkapkan jumlah dan meningkatkan kemampuan tenaga pengajar dengan penugasan belajar ke luar negeri.
Kurun dasawarsa kedua tahun 1970-an ITB diwarnai oleh masa sulit yang timbul menjelang periode pertama. Satuan akademis yang telah dibentuk berubah menjadi satuan kerja yang juga berfungsi sebagai satuan sosial-ekonomi yang secara terbatas menjadi institusi semi-otonomi. Tingkat keakademian makin meningkat, tetapi penugasan belajar ke luar negeri makin berkurang. Sarana internal dan kepranataan semakin dimanfaatkan.
Kurun dasawarsa ketiga tahun 1980-an ditandai dengan kepranataan dan proses belajar mengajar yang mulai memasuki era modern dengan sarana fisik kampus yang makin dilengkapi. Jumlah lulusan sarjana makin meningkat dan program pasca sarjana mulai dibuka. Keadaan ini didukung oleh makin membaiknya kondisi sosio-politik dan ekonomi negara.
Kurun dasawarsa keempat tahun 1990-an perguruan tinggi teknik yang semula hanya mempunyai satu jurusan pendidikan itu, kini memiliki dua puluh enam Departemen Program Sarjana, termasuk Departemen Sosioteknologi, tiga puluh empat Program Studi S2/Magister dan tiga Bidang Studi S3/Doktor yang mencakup unsur-unsur ilmu pengetahuan, teknologi, seni, bisnis dan ilmu-ilmu kemanusiaan. - Universitas Indonesia (UI) Universitas Indonesia adalah kampus modern, komprehensif, terbuka,
multi budaya, dan humanis yang mencakup disiplin ilmu yang luas. UI saat
ini secara simultan selalu berusaha menjadi salah satu universitas
riset atau institusi akademik terkemuka di dunia. Sebagai universitas
riset, upaya-upaya pencapaian tertinggi dalam hal penemuan, pengembangan
dan difusi pengetahuan secara regional dan global selalu dilakukan.
Sementara itu, UI juga memperdalam komitmen dalam upayanya di bidang
pengembangan akademik dan aktifitas penelitian melalui sejumlah disiplin
ilmu yang ada dilingkupnya.
UI berdiri pada tahun 1849 dan merupakan representasi institusi pendidikan dengan sejarah paling tua di Asia. Telah menghasilkan lebih dari 400.000 alumni, UI secara kontinyu melanjutkan peran pentingnya di level nasional dan dunia. Bagaimanapun UI tidak bisa melepaskan diri dari misi terkininya menjadi institusi pendidikan berkualitas tinggi, riset standar dunia dan menjaga standar gengsi di sejumlah jurnal internasional nomor satu.
Secara geografis, posisi kampus UI berada di dua area berjauhan, kampus Salemba dan kampus Depok. Mayoritas fakultas berada di Depok dengan luas lahan mencapai 320 hektar dengan atmosfer green campus karena hanya 25% lahan digunakan sebagai sarana akademik, riset dan kemahasiswaan. 75% wilayah UI bisa dikatakan adalah area hijau berwujud hutan kota dimana di dalamnya terdapat 8 danau alam. Sebuah area yang menjanjikan nuansa akademik bertradisi yang tenang dan asri. - Universitas Airlangga (UNAIR) Sejarah Universitas Airlangga berawal dari cikal-bakal lembaga
pendidikan Nederlands Indische Artsen School (NIAS) dan School Tot
Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT), masing-masing didirikan oleh
pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913 dan 1928. Setelah masa
pergolakan kemerdekaan sempat terganggu kelancarannya, pada tahun 1948
pemerintah pendudukan Belanda mendirikan Tandheelkunding Instituut yang
merupakan cabang Universiteit van Indonesie Jakarta dan membuka kembali
NIAS dengan nama Faculteit der Geneeskunde yang juga sebagai cabang
Universiteit van Indonesie Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia baru resmi membuka Universitas Airlangga Surabaya yang merupakan lembaga pendidikan tinggi pertama di kawasan timur Indonesia – pada tahun 1954. Peresmian Universitas Airlangga dilakukan oleh Presiden RI pertama, Dr. Ir. Soekarno, yang bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan yang ke-9, tanggal 10 November 1954. Secara legal pendiriannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No. 57/1954. - Universitas Padjadjaran (UNPAD)
Pada tahun 1950-an, di Bandung sebenarnya telah ada perguruan tinggi seperti Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA yang merupakan bagian dari Universitas Indonesia (UI) dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Namun, masyarakat menghendaki sebuah universitas negeri yang menyelenggarakan pendidikan dari berbagai disiplin ilmu. Perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat sangat besar terhadap perlu adanya universitas negeri di Bandung, terutama setelah Bandung dipilih sebagai kota penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955.
Oleh karena itu, pada tanggal 14 Oktober 1956 terbentuklah Panitia Pembentukan Universitas Negeri (PPUN) di Bandung. Pembentukan PPUN tersebut berlangsung di Balai Kotapraja Bandung. Pada rapat kedua tanggal 3 Desember 1956, panitia membentuk delegasi yang terdiri dari Prof. Muh. Yamin, Mr. Soenardi, Mr. Bushar Muhammad, dan beberapa orang tokoh masyarakat Jawa Barat lainnya. Tugas delegasi adalah menyampaikan aspirasi rakyat Jawa Barat tentang pendirian universitas negeri di Bandung kepada Pemerintah, DPR Kabupaten dan Kota Besar Bandung, Gubernur Jawa Barat, Presiden UI, Ketua Parlemen, Menteri PPK, bahkan kepada Presiden Republik Indonesia.
Delegasi berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga pemerintah melalui SK Menteri PPK No. 11181/S tertanggal 2 Februari 1957, memutuskan membentuk Panitia Negara Pembentukan Universitas Negeri (PNPUN) di Kota Bandung.
Pada tanggal 25 Agustus 1957 dibentuk Badan Pekerja (BP) dan PNPUN tersebut yang diketuai oleh R. Ipik Gandamana, Gubernur Jawa Barat. BP dibentuk dengan tujuan untuk mempercepat proses kelahiran UN tersebut. Hasil dari BP adalah lahirnya Universitas Padjadjaran (Unpad) pada hari Rabu 11 September 1957, dikukuhkan berdasarkan PP No. 37 Tahun 1957 tertanggal 18 September 1957 (LN RI No. 91 Tahun 1957).
Kemudian berdasarkan SK Menteri PPK No. 91445/CIII tertanggal 20 September , status dan fungsi BP diubah menjadi Presidium Unpad yang dilantik oleh Presiden RI tanggal 24 September 1957 di kantor Gubernuran Bandung.
Adapun nama “Padjadjaran” diambil dari nama Kerajaan Sunda, yaitu Kerajaan Padjadjaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi atau Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Pakuan Padjadjaran (1473-1513 M). Nama ini adalah nama yang paling terkenal dan dikenang oleh rakyat Jawa Barat, karena kemashuran sosoknya di antara raja-raja yang ada di tatar Sunda ketika itu.
Pada saat berdirinya, Unpad terdiri dari 4 fakultas: Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ekonomi (keduanya berawal dari Yayasan Universitas Merdeka di Bandung), Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan (FKIP, penjelmaan dari PTPG di Bandung), dan Fakultas Kedokteran.
Pada 18 September 1960, dibuka Fakultas Pendidikan Jasmani (FPJ) sebagai perubahan dari Akademi Pendidikan Jasmani. Pada tahun 1963-1964, FPJ dan FKIP melepaskan diri dari Unpad dan masing-masing menjadi Sekolah Tinggi Olah Raga dan Institut Keguruan & Ilmu Pendidikan (IKIP, sekarang Universitas Pendidikan Indonesia).
Dalam kurun waktu 6 tahun, di lingkungan Unpad bertambah 8 fakultas yakni: Fakultas Sosial Politik (13 Oktober 1958, sekarang FISIP), Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA, 1 November 1958), Fakultas Sastra (1 November 1958, kini menjadi Fakultas Ilmu Budaya), Fakultas Pertanian (Faperta, 1 November 1959), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG, 1 November 1959), Fakultas Publisistik (18 September 1960, sekarang menjadi Fikom), Fakultas Psikologi (FPsi, 1 September 1961), dan Fakultas Peternakan (Fapet, 27 Juli 1963).
Tahun 2005, Unpad membuka 3 fakultas baru Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK, 8 Juni 2005), Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan (FPIK, 7 Juli 2005), dan Fakultas Teknik Industri Pertanian (FTIP, 13 September 2005).
Selama 2 tahun kemudian, Unpad meningkatkan status 2 jurusan di FMIPA, yaitu Jurusan Farmasi menjadi Fakultas Farmasi (17 Oktober 2006), serta Jurusan Geologi menjadi Fakultas Teknik Geologi (FTG, 12 Desember 2007).
Dalam rangka meningkatkan performa universitas, pada 7 September 1982, Unpad membuka Fakultas Pascasarjana. Fakultas ini menyelenggarakan pendidikan jenjang S-2 (Program Magister) dan S-3 (program Doktor). Pada perkembangan selanjutnya, Fakultas Pascasarjana statusnya berubah menjadi Program Pascasarjana. Sebagai upaya memenuhi tenaga-tenaga terampil ahli madya, maka Unpad juga menyelenggarakan pendidikan Program Diploma (S-0) untuk beberapa bidang ilmu.
Kepemimpinan di Unpad pun mengalami perkembangan, baik para pejabat, struktur, maupun bentuk organisasinya. Kepemimpinan yang pertama berbentuk presidium, dengan ketua R. Ipik. Gandamana, Wakil Ketua R. Djusar Subrata, serta Sekretaris Mr. Soeradi Wikantaatmadja dan R Suradiradja.
Selanjutnya pad 6 November 1957 diangkat Presiden Unpad yaitu Mr. Iwa Koesoemasoemantri, berdasarkan SK Presiden RI No. 14/M/1957, tertanggal 1 Oktober 1957. Pengambilan sumpah dilakukan di Istana Negara. Dalam pelaksanaan tugasnya, Presiden Unpad didampingi Senat Universitas dengan Sekretaris Prof. M. Sadarjun Siswomartojo, Kusumahatmadja, dan Mr. Bushar Muhammad.
Sejak 1963, sebutan Presiden Universitas diubah menjadi Rektor dan sebutan Sekretaris Universitas atau Kuasa Presiden diubah menjadi Pembantu Rektor.
Adapun susunan pejabat Rektor Unpad sejak awal berdirinya hingga sekarang sebagai berikut.:
1957-1961 Prof. Iwa Koesoemasoemantri, S.H.
1961-1964 Prof. R. G. Soeria Soemantri, drg.
1964-1966 Moh. Sanusi Hardjadinata
1966-1973 Prof. R. S. Soeria Atmadja
1973-1974 Prof. Dr. Muchtar K., S.H., LL.M.
1974-1982 Prof. Dr. Hindersah Wiraatmadja
1982-1990 Prof. Dr. Yuyun Wirasasmita, M.Sc.
1990-1998 Prof. Dr. H. Maman P. Rukmana
1998-2007 Prof. Dr. H. A. Himendra Wargahadibrata, dr., Sp.An., KIC
2007-sekarang Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA.
Kampus Jatinangor
Terinspirasi oleh “Kota Akademik Tsukuba”, Rektor keenam Unpad, Prof. Dr. Hindersah Wiraatmadja menggagas “Kota Akademis Manglayang”, yang terletak di kawasan kaki Gunung Manglayang.
Konsep tersebut menjawab permasalahan kampus Unpad yang tersebar di 13 lokasi yang berbeda sehingga menyulitkan koordinasi dan pengembangan daya tampung, selain untuk meningkatkan produktivitas, mutu lulusan, dan pengembangan sarana/prasarana fisik.
Sejak tahun 1977, Unpad merintis pengadaan lahan yang memadai dan tahun 1979 baru disepakati dengan adanya penunjukkan lahan bekas perkebunan di Jatinangor.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 593/3590/1987, kawasan itu meliputi luas 3.285,5 Hektar, terbagi dalam 7 wilayah peruntukkan. Khusus untuk Unpad, wilayah pengembangan kampus di Jatinangor mencakup 175 h.
Secara bertahap, Unpad telah mulai memindahkan kegiatan pendidikannya ke Jatinangor sejak 1983, yang diawali oleh Fakultas Pertanian. Kemudian diikuti oleh fakultas-fakultas lainnya yang ada di lingkungan Unpad. Pada 5 Januari 2012, gedung Rektorat Unpad resmi pindah ke Jatinangor. - Universitas Brawijaya (UNBRAW) diresmikan sebagai Universitas Negeri pada tahun 1963. Saat ini UB
merupakan salah satu universitas negeri yang terkemuka di Indonesia
yang mempunyai jumlah mahasiswa lebih dari 50 ribu orang dari berbagai
strata mulai program Diploma, Program Sarjana, Program Magister dan
Program Doktor selain Program Spesialis tersebar dalam 12 Fakultas dan 4
program pendidikan setara fakultas.
Kampus UB berada di kota Malang Jawa Timur, dengan lokasi yang mudah
terjangkau oleh kendaraan umum. Kampusnya sangat asri karena banyaknya
pepohonan dan ditunjang oleh hawa sejuk kota Malang. Sejarah
membuktikan keberadaan Kota Malang sebagai kota pendidikan tempat UB
tumbuh dan berkembang pesat. Ini tidak terjadi dengan sendirinya tapi
seakan merupakan proses sejarah yang tidak terpisahkan dari kejayaan
Jawa Timur di masa lampau.
Nama Universitas Brawijaya diberikan oleh Presiden Republik Indonesia melalui kawat nomor 258/K/61 tanggal 11 Juli 1961. Nama ini berasal dari gelar Raja-Raja Majapahit yang merupakan kerajaan besar di Indonesia pada abad 12 sampai 15. Universitas Brawijaya dinegerikan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 196 tahun 1963 dan berlaku sejak 5 Januari 1963. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir (Dies Natalis) Universitas Brawijaya. Perjalanan Universitas Brawijaya sebelum dinegerikan diawali pada tahun 1957 di Malang berdiri cabang Universitas Sawerigading Makassar yang hanya terdiri dari dua fakultas yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Kemudian pada tanggal 1 Juli 1960 diganti namanya menjadi Universitas Kotapraja Malang. Dibawah naungan Universitas tersebut beberapa bulan berikutnya terdapat tambahan dua fakultas yaitu Fakultas Administrasi Niaga (FAN) dan Fakultas Pertanian (FP). Universitas Kotapraja Malang inilah yang kemudian diganti namanya menjadi Universitas Brawijaya.
Pada saat dinegerikan, Universitas Brawijaya hanya mempunyai 5 fakultas yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ketatanegraan dan Ketataniagaan (FKK merupakan perluasan dari FAN dan saat ini namanya adalah Fakultas Ilmu Administrasi - FIA), Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP). FKHP kemudian dipecah menjadi dua fakultas pada tahun 1973, yaitu Fakultas Peternakan (FPt) yang berada di Universitas Brawijaya dan Fakultas Kedokteran Hewan yang berada dibawah naungan Universitas Airlangga. Fakultas Teknik (FT) berdiri tahun 1963 berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP nomor 167 tahun 1963 tertanggal 23 Oktober 1963.
Berdasarkan SK Presiden Nomor 59 tahun 1982 tanggal 7 September 1982 tentang struktur organisasi Universitas Brawijaya, Fakultas Perikanan (FPi) menjadi fakultas tersendiri karena sejak tahun 1977 digabung menjadi satu dengan Fakultas Peternakan dengan nama Fakultas Peternakan dan Perikanan. Sebagai catatan bahwa Fakultas Perikanan telah berdiri sejak tahun 1963 di Probolinggo yang merupakan Jurusan dari FKHP Universitas Brawijaya. Fakultas Kedokteran (FK) secara resmi berada di bawah Universitas Brawijaya sejak tahun 1974 setelah sejak berdirinya tahun 1963 dibawah Yayasan Perguruan Tinggi Jawa Timur. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), diresmikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0371/O/1993 tanggal 21 Oktober 1993. Universitas Brawijaya menambah satu lagi fakultas yaitu Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) yang merupakan peningkatan satus dari Jurusan Teknologi Pertanian yang sebelumnya berada di Fakultas Pertanian.
Lagu Hymne Brawijaya diciptakan oleh seorang mahasiswa FKHP Yanardhana pada tahun 1963, sedangkan Mars Universitas Brawijaya diciptakan oleh Lilik Sugiarto tahun 1996. Kedua lagu ini masih digunakan sampai sekarang. - Universitas Diponegoro (UNDIP) Sekitar awal tahun 1950-an masyarakat Jawa Tengah pada umumnya dan
masyarakat Semarang khususnya, membutuhkan kehadiran sebuah universitas
sebagai pelaksana pendidikan dan pengajaran tinggi. Hal itu untuk
membantu pemerintah dalam menangani dan melaksanakan pembangunan di
segala bidang. Pada waktu itu di Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta
hanya memiliki Universitas Gajah Mada yang berstatus sebagai universitas
negeri.
Jumlah lulusan SMU di Jawa Tengah bagian utara yang akan melanjutkan pendidikan tinggi di universitas makin meningkat, namun karena masih sangat terbatasnya universitas yang ada, sehingga tidak semua lulusan dapat tertampung. Menyadari akan kebutuhan pendidikan tinggi yang semakin mendesak, kemudian dibentuk Yayasan Universitas Semarang dengan Akte Notaris R.M. Soeprapto No. 59 tanggal 4 Desember 1956 sebagai langkah awal didirikannya universitas di Semarang dengan nama Universitas Semarang.
Beberapa tokoh yang memprakarsai berdirinya Universitas Semarang diantaranya Mr. Imam Bardjo, waktu itu menjabat Kepala Kejaksaan atau Pengawas Kejaksaan-Kejaksaan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Mr. Sudarto, Mr. Soesanto Kartoatmodjo, dan Mr Dan Soelaiman, ketiganya jaksa di Semarang.
Sedangkan beberapa tokoh yang ditetapkan pertama kali sebagai pengurus yayasan dalam akte notaris, sebagai Ketua Mr. Soedarto, Wakil Ketua Mr. Dan Soelaiman, Panitera Mr. Soesanto Kartoatmodjo, Bendahara Tuan Achmad Tjokrokoesoemo, Pembantu Mr. Imam Bardjo, Mr. Goenawan Goetomo, Mr. Tan Tjing Hak, dan Mr. Koo Swan Ik.
Pendirian Universitas Semarang ternyata mendapat tanggapan dan bantuan dari berbagai pihak, khususnya masyarakat Semarang, Pemda Propinsi Jawa Tengah, serta Pemkot Semarang. Secara resmi Universitas Semarang dibuka pada tanggal 9 Januari 1957, sebagai Presiden Universitas diangkat Mr. Imam Bardjo. Waktu itu beliau juga memberikan mata kuliah umum Hak-hak Azasi Manusia.
Mengingat usianya yang masih sangat muda dengan sarana dan prasarana pendidikan yang masih sangat terbatas, maka pada waktu itu baru dapat dibuka Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat. Sebagai dekan pertama, Mr. R. Soebijono Tjitrowinoto. Kemudian pada tanggal 1 Maret 1957 dibuka pendidikan Akademi Administrasi Negara yang kemudian berubah menjadi Fakultas Sosial dan Politik, dengan dekan pertama Mr. R. Goenawan Goetomo.
Akademi Tata Niaga atau yang sekarang menjadi Fakultas Ekonomi dibuka pada tanggal 21 September 1958, sebagai dekan pertama, Dr. Tjioe Sien Kiong. Sedangkan pendidikan Akademi Teknik, yang kemudian menjadi Fakultas Teknik, dibuka pada tanggal 20 Oktober 1958, dengan dekan pertama, Prof. Ir. R. Soemarman.
Akademi Teknik
Pendirian Akademi Teknik tak terlepas dari jasa Prof. Dr. Ir. Jakub Rais, M.Sc, mantan Caretaker Rektor UNDIP periode Oktober 1965 sampai Desember 1966. Sejak tahun 1956, Prof. Jakub Rais, sudah tinggal di Semarang sebagai Kepala Kantor Pendaftaran Tanah. Ia alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia, di Bandung, kini menjadi ITB, pada akhir 1955. Di masa penjajahan dulu disebut kantor itu disebut Kadaster dan kini dinamakan Badan Pertahanan Nasional.
Pada tahun 1957, ada suatu peristiwa yang mengubah sama sekali jalan hidupnya. Suatu sore, ia mengantar istrinya ke Toko “De Zon” di Jalan Bojong, kini menjadi pasar swalayan. Ia berdiri di luar toko, di bawah tiang listrik. Ketika ia melihat orang berlalu lalang, ada seseorang yang telah ia kenal sebelumnya sebagai Menteri Agraria periode 1955/1956, yaitu Mr. R. Gunawan Gutomo.
Dalam pertemuan itu, Mr. Gunawan mengajaknya untuk bergabung dengan sekelompok para sarjana hukum dari kantor kejaksaan di Semarang yang telah mendirikan Universitas Semarang. Mereka yaitu, Imam Barjo SH, Soedarto SH, Soesanto Kartoatmojo, SH, dan Sulaiman, SH. Sedang Mr. Gunawan dari Pengadilan Negeri Semarang, dan pernah menjadi Jaksa Agung di masa Presiden Soekarno. Mr Gunawan memintanya mendirikan Akademik Teknik. Waktu itu Universitas Semarang terdiri dari akademi-akademi, antara lain Akademi Tata Niaga dan Akademi Tata Negara.
Gagasan di bawah tiang listrik dan di tepi jalan itu membuatnya berpikir dan akhirnya terasa terpanggil untuk menindak lanjuti gagasan Akademi Teknik ini. Ketika itu umurnya 29 tahun. Ia kebetulan mempunyai teman, Ir.Moeljadi Banuwidjojo, kini sudah meninggal, Kepala Dinas Kehutanan di Semarang, yang sama-sama bergabung dalam Rotary Club Semarang. “Saya dan Moeljadi kemudian merancang suatu pertemuan dengan beberapa insinyur sipil dari Dinas Pekerjaan Umum Jawa Tengah,” ungkap Prof Jakub Rais.
Beberapa teman juga dihubunginya, seperti Ir. Oesman Djojodinoto, Ir. Ibnu, Ir. Lie Kok Gwan, pengusaha juga anggota Rotary Club), Ir. Oei Djwee Hwie, Ir. Sunardi dan Ir. Tjoa Teng Kie. Ir. Sunardi kemudian menjadi pegawai negeri UNDIP dan guru besar di Fakultas Teknik UNDIP. Seorang insinyur sipil di Jawatan Kereta Api, Ir. Imam Subarkah, juga diajaknya bergabung. Dan kebetulan Kepala Jawatan Umum waktu itu adalah Prof. Ir. Soemarman, gurubesar luar biasa Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada.
Beliau dengan senang hati bergabung untuk mendirikan Akademik Teknik Universitas Semarang. Jumlah insinyur di kota Semarang hanya ada sembilan orang pada tahun 1958. Sebagian besar lulusan TH Bandung di zaman Belanda dan TH Delft di negeri Belanda, dan sembilan insinyur itulah yang menyusun kurikulum sampai tingkat bakaloreat.
Dengan selesainya kurikulum maka pas tanggal 1 September 1958 berdirilah Akademi Teknik Universitas Semarang, Jurusan Teknik Sipil dengan Prof. Ir. Sumarman sebagai Dekan dan Jacub Rais sebagai Sekretaris, yang mendapat tunjangan jabatan sebesar Rp. 500. Mahasiswa pertama sebanyak 15 orang dan kuliah dilakukan di beberapa lokasi, karena belum ada gedung, kadang-kadang di gedung bioskop, rumah di Jalan Beringin (kantor Yayasan Universitas Semarang) dan kemudian mendapat gedung tetap bekas bioskop di Jalan MT. Haryono No. 427 milik Pepekuper Teritorium IV, sebagai kampusnya
Perkuliahan dilakukan pada sore hari juga dengan meminjam sebuah gedung di sekitar Tugu Muda (saat ini menjadi gedung Wisma Perdamaian). Berikutnya pada periode yang lebih mapan Fakultas Teknik pindah ke “Gedung Putih“ di Kampus Pleburan / Jl. Hayam Wuruk. Pada tahun 1996 sampai dengan sekarang Kampus Fakultas Teknik Universitas Diponegoro pindah ke Tembalang, yang dibangun melalui proyek Six Universities Development and Rechabilitation (SUDR).
Sejak Universitas Diponegoro diresmikan sebagai perguruan tinggi negeri pada tanggal 15 Oktober 1960, Fakultas Teknik sebagai pencetak sumber daya manusia yang berkualitas, terus mengembangkan diri dengan mendirikan Jurusan /Program Studi yang dibutuhkan masyarakat. Jurusan Teknik Sipil merupakan jurusan yang pertama, dengan Ketua Jurusan merangkap Dekan Fakultas Teknik pertama Prof. Ir. Soemarman. Jurusan Teknik Sipil terakreditasi A melalui SK BAN Perguruan Tinggi No. 021/BAN-PT/AK-VII/S1/VI2004. Pada tahun 1997 Jurusan Teknik Sipil melahirkan Program Magister Teknik Sipil (S2, dan pada bulan Juni 2004 ikut membidani berdirinya Program Doktor Teknik Sipil (S3).
Pada tahun 1962, dibuka Jurusan Teknik Arsitektur dengan Ketua Jurusan pertama dijabat oleh Ir. Sidharta (sekarang Prof. Ir. Sidharta, yang telah pensiun). Jurusan Arsitektur terakreditasi A pada bulan Juni-2003. Jurusan Arsitektur juga melahirkan Program Magister Teknik Arsitektur (S2) pada tahun 1998, dan bersama-sama Jurusan Pengembangan Wilayah dan Kota pada tahun 2004 juga mendirikan Program Doktor Teknik Arsitektur dan Perkotaan (PDTAP).
Pada tahun 1965 dibuka Jurusan Teknik Kimia dengan Ketua Jurusan pertama dijabat oleh Ir. Nisyamhuri (kini sudah pensiun). Pada bulan September 2003 Jurusan Teknik Kimia telah terakreditasi A. Pada tahun 2005 juga melahirkan Program Magister Teknik Kimia (S2).
Pada tahun 1969 dibuka Jurusan Matematika. Setelah menghasilkan banyak sarjana Matematika, mulai tahun 1988 Jurusan Matematika tidak lagi bernaung dibawah Fakultas Teknik, melainkan masuk menjadi satu Jurusan di Badan Pengelola MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) dan sekarang menjadi Fakultas MIPA.
Pada tahun pertama Universitas Semarang dipimpin oleh Presiden Universitas Imam Bardjo, SH dan Wakilnya Soedarto, SH. Sangat disayangkan Imam Bardjo, SH meninggal dalam masa jabatanya dan diganti oleh Soedarto SH. Pimpinan universitas waktu itu dinamakan Presiden Universitas dan pembantunya/wakilnya disebut Kuasa Presiden I (Akademis) dan Kuasa Presiden II (Administrasi dan Keuangan). Dalam masa kepemimpinan Soedarto SH, Jacub Rais diangkat sebagai Kuasa Presiden I.
Menjadi Undip
Dalam masa-masa itulah ada upaya-upaya Universitas Semarang menjadi Universitas Negeri Jawa Tengah dengan dukungan Pemerintah Daerah dan masyarakat, karena memang belum ada universitas negeri di provinsi ini. Sebagai Kuasa Presiden I, ia menyiapkan semua perangkat akademis yang disyaratkan, seperti adanya senat dan merubah akademi menjadi fakultas-fakultas serta mengangkat pinpinan fakultas. Namun, syarat utama yang paling penting adalah minimum harus ada dua tenaga tetap pegawai universitas.
“Mas Darto, panggilan saya kepada Soedarto, SH, mengajak saya bersama beliau untuk membuat pernyataan bersedia menjadi dosen atau pegawai universitas yang akan di negerikan kemudian. Karena itu pula saya menyampaikan surat kepada Jawatan Pendaftaran Tanah,” katanya. Akhirnya keluar juga Surat Keputusan Pelimpahannya dari Kementrian Agraria ke Departemen Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Dan Surat Keputusan Menteri PTIP No. 9197/UP/II/61 tanggal 1 Maret 1961 mengangkatnya sebagai Lektor Fakultas Teknik Universitas Semarang dengan pangkat/golongan F/III. Demikian juga Soedarto SH memperoleh surat lolos butuh dari kementeriannya, maka jadilah mereka berdua “cikal bakal” universitas negeri di Jawa Tengah.
Dengan usaha keras bolak-balik ke Jakarta akhirnya panitia penegerian Universitas Semarang dapat bertemu dengan Presiden Soekarno pada tanggal 9 Januari 1960 dan beliau setuju menegerikan universitas swasta ini dan memberikan nama “Universitas Diponegoro”. Keputusan Presiden ini kemudian dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1961 dan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 101247/UU tanggal 3 Desember 1960. Keputusan tersebut berlaku surut mulai tanggal 15 Oktober 1960 dengan ketentuan tanggal tersebut merupakan Dies Natalis Undip.
Penetapan tahun 1957 sebagai tahun berdirinya Undip, dengan memperhatikan realitas sejarah dimana Universitas Semarang sebagai universitas swasta - yang berdiri tahun 1957- merupakan embrio dari Undip sebagai universitas negeri. Penetapan Dies Natalis Undip tanggal 15 Oktober 1957, telah dinyatakan pada laporan Rektor Undip dalam Dies Natalisnya yang ke 13.
Pada awalnya 9 Januari 1960, yaitu tanggal pada waktu Presiden Soekarno memberi nama Universitas Diponegoro diusulkan menjadi hari jadi UNDIP, namun akhirnya kembali ditetapkan tanggal 15 Oktober 1950 sebagai hari jadi, mengingat pada tanggal ini terjadi “pertempuran lima hari” selama revolusi fisik di kota Semarang. UNDIP memilih tanggal ini untuk meneruskan cita-cita pejuang kemerdekaan bangsa mengisi kemerdekaan dengan mencerdaskan bangsa. UNDIP adalah bentuk sumbangsih para penerus bangsa atas amanah yang ditinggalkan para pejuang kemerdekaan.
Dari tahun 1960 sampai 1965, ia berturut-turut menjalankan tugas sebagai Pembantu Rektor Bidang Akademis di masa Rektor Prof Soedarto SH, kemudian di masa Presidium Universitas Diponegoro dipimpin oleh Gubernur Mohtar di tahun 1963 dan kemudian di bawah Rektor, Prof. Soenaryo, SH (1964-1965). Ketika terjadi peristiwa G30S/PKI pada tanggal 30 September 1965, Rektor yang setiap bulan hanya seminggu ada di Semarang, tidak datang ketika keadaan begitu kritis di Semarang. Menteri Pendidikan ketika itu, Mashuri SH, meneleponnya dan menugaskannya untuk menjalankan tugas rektor dan segara menugaskan membersihkan UNDIP dari anasir-anasir G30S/PKI. Jadilah ia caretaker Rektor dan bersama Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kolonel dr Soewondo, mereka berdua bertemu Komandan KMKB, Kol. Munadi, menyusun strategi membersihkan UNDIP dari anasir-anasir PKI.
Kampus UNDIP di Pleburan mempunyai riwayat tersendiri. Tanah di Pleburan harus dilikuidasi dari tanah partikulir (pertikoeliere landerijen) milik raja gula, Oei Tiong Ham di Semarang dan menjadi tanah negara pada tahun 1958. Tanah partikulir adalah tanah negara yang dijual oleh Gubernur Jenderal Daendels (1818-1825) kepada swasta. Untuk mengembangkan UNDIP, ia masih mencari tanah untuk kampus yang lebih luas. Pada waktu itu ia meneliti tanah Kalipancur, di Semarang Barat, bekas lapangan udara di zaman Belanda dan Jepang. Daerah ini suatu plateau yang indah, namun karena airnya harus ditarik dari Ungaran menyebabkan ia mencari alternatif lain.
Alternatif kedua di Watugong, yang kini menjadi kantor Kodam IV/Diponegoro. Tanah tersebut terpotong oleh jalan ke Ungaran yang juga tanah swasta sangat luas sehingga harus dilikuidasi karena tidak sesuai dengan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960. Tanah itu sebagian besar sudah menjadi milik pribadi seorang dokter mata di Semarang.
Kembangkan Diri
Pada Dies Natalis ketiga, Universitas Semarang pada tanggal 9 Januari 1960, Presiden RI, Ir. Soekarno mengganti nama Universitas Semarang menjadi Universitas Diponegoro. Perubahan ini sebagai penghargaan terhadap Universitas Semarang atas prestasinya dalam pembinaan bidang pendidikan tinggi di Jawa Tengah.Universitas Diponegoro kemudian dinyatakan sebagai universitas negeri, terhitung mulai tanggal 15 Oktober 1960. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Universitas Diponegoro (Undip). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1961, Undip, meliputi Fakultas Hukum terdiri dari Bagian Hukum dan Bagian Sosial Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan cabangnya di Surakarta, yang kemudian menjadi IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Pada perkembangannya kemudian, atas dasar Surat Keputusan Presiden RI. No. 1 tahun 1963, IKIP Universitas Diponegoro melepaskan diri dan kemudian berdiri sendiri sebagai IKIP Negeri di Semarang dan IKIP Negeri di Surakarta.
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro lahir pada tanggal 14 Maret 1960, ketika sedang mempersiapkan diri sebagai Universitas Negeri. Sebelum terbentuk Fakultas Ekonomi, yang ada di Undip adalah Akademi Tata Niaga yang merupakan kelanjutan dari Akademi Tata Niaga Universitas Semarang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1961 Universitas (swasta) Diponegoro dinyatakan sebagai Universitas Negeri terhitung mulai tanggal 15 Oktober 1960. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro pada saat berdirinya mempunyai dua jurusan untuk program gelar yaitu Jurusan Perusahaan dan Jurusan Umum dengan sistem pendidikan yang disebut sistem paket. Pada tahun akademik 1980/1981 sesuai dengan arahan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diterapkan sistem pendidikan yang baru disebut sistem kredit. Di bawah sistem yang baru ini nama jurusan juga diubah, yaitu masing-masing menjadi Jurusan Manajemen dan Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.
Sejak tahun akademik 1982/1983 dibuka jurusan baru yaitu jurusan Akuntansi di bawah bimbingan atau pembinaan Jurusan Akuntansi Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 1986 sudah tidak di bawah pembinaan dari Universitas Gadjah Mada. Dengan dileburnya Akademi Administrasi Niaga Negara (AANN) Semarang pada Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, mulai tahun 1975 dibuka program non gelar dengan nama Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) yang kemudian pada tahun 1982/1983 ditingkatkan menjadi Program Diploma III Fakultas Ekonomi. Saat ini Program Diploma III mempunyai tiga program studi yaitu Program Studi Akuntansi, Program Studi Kesekretariatan dan Program Studi Perpajakan.
Kemudian pada tahun 1994 dibuka Program S1 Ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang pada awal pendiriannya bernama Program Extension Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Diponegoro Nomor 281/SK/PT09/1993, tanggal 27 Oktober 1993 tentang Pembentukan Program Studi S1 Manajemen, Studi Pembangunan dan Akuntansi pada Program Extension Fakultas Ekonomi Undip. Dengan keluarnya SK Ditjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 369/DIKTI/Kep.1996 tentang Pembukaan Program Ekstensi dalam Program-program Studi Pembangunan, Manajemen dan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Juni 1996, maka pada awal semester genap tahun akademik 1996/1997 penggunaan istilah Program Extension diganti dengan Program Ekstensi.
Pada tahun 1994 dibuka Program Studi Magister Manajemen (MM) yang penyelenggaraan kegiatannya berada di Fakultas Ekonomi, sedang pengelolaannya ditangani oleh Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Pada tahun 1999 dibuka Program Studi Magister Akuntansi (M.Si), dan tahun 2000 dibuka Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (M.Si). Pada tahun 2002 dibuka Program Doktor/ S-3 Ilmu Ekonomi, serta pada tahun 2003 telah dibuka Program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA).Program gelar yaitu program sarjana menghasilkan sarjana untuk pertama kalinya dalam tahun 1967. Antara tahun 1967 sampai dengan tahun 1977 dalam setiap tahunnya rata-rata 37 mahasiswa dapat menyelesaikan studi sarjananya.Sejak berlakunya sistem semester penuh (Sistem Paket) pada tahun 1978 jumlah lulusan Sarjana Ekonomi meningkat menjadi 75 orang per tahun.
Setelah diberlakukannya Sistem Kredit Semester sejak tahun 1980 secara bertahap dan mulai menghasilkan Sarjana Ekonomi sejak tahun 1984, rata-rata lulusan adalah 180 orang per tahun. Sampai dengan tanggal 31 Juli 2006 jumlah seluruh lulusan program S1 sebanyak sebesar 8.826 orang. Sedangkan lulusan Program D III sampai dengan tanggal 31 Juli 2006 sebanyak 7.084 orang.
Universitas Diponegoro terus mengembangkan diri dengan melengkapi fakultas-fakultas yang sangat dibutuhkan sebagai pencetak sumber daya manusia yang berkualitas sarjana. Dalam kurun waktu 1961-1970, Universitas Diponegoro telah berhasil mendirikan empat fakultas, yaitu Fakultas Kedokteran (1961), Fakultas Peternakan (1964), Fakultas Sastra (1965) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1965).
Sampai saat ini ada 11 fakultas di Undip, yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Peternakan, Fakultas Sastra, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Fakultas Psikologi. - Institute Pertanian Bogor (IPB) Embryonic Phase(1941-1963)IPB's embryonic phase of development began with the existence of institutions of secondary and higher education in agriculture and veterinary medicine in the early 20th century in Bogor. Before World War II the secondary education institutions were known by the names: Middelbare Landbouw School, Middelbare Bosbouw School and Nederlandsch Indiche Veeartsen School.In 1940, the Dutch government founded an Institution of Agricultural Higher Education in Bogor with the name Landbouw Hogeschool, which later on 31October 1941 was called Landbowkundige Faculteit. However, it was closed during the Japanese occupation (1942-1945), while the Nederlandsch Indische Veeartsenschool (Veterinary School) remained to operate. But its name was changed to Bogor Zui Gakku (Bogor Veterinary School). In line with the period of independence in 1946, the Ministry of Prosperity, the Republic of Indonesia upgraded the Veterinary School in Bogor to College of Veterinary Medicine (PTKH).In 1947 the Institution of Agricultural Higher Education, Landbowkundige Faculteit was reopened under the name Faculteit Voor Landbouw-Wetenschappen, which had majors in Agriculture and Forestry. Meanwhile in 1948 PTKH or College of Veterinary Medicine was changed to Faculteit voor Dierge neeskunde under Universiteit van Indonesie which later changed its name to University of Indonesia.In1950 Faculteit voor Landbouw-wetenschappen became Faculty of Agriculture, University of Indonesia, with three Departments, namely, Socio-Economics, Physical Sciences and Forestry and in 1957 the Department of Land Fishery was formed. Meanwhile, Faculteit voor Dieergeneeskunde was changed to Faculty of Veterinary Medicines under the University of Indonesia, and then in 1960 the name became Faculty of Veterinary Medicines and Animal Husbandry. In 1962 it became Faculty of Veterinary Medicine, Animal Husbandry of the University of Indonesia.Some important historical milestone known in the embryonic stage are:(1) the application of guided study system that replaced the free study system of, (2) the idea of building a new campus in Darmaga for Faculty of Agriculture, University of Indonesia, and (3) the application of the philosophy “Tridharma” of Higher Education which was originally applied in Faculty of Agriculture and the Faculty of Veterinary Medicine and Animal Husbandry of UI by Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwidjaja. Nationalization of Dutch companies in Indonesia entered the year 1960 and gave IPB the opportunity to expand its campus land, so in addition to Campuses of Barangangsiang, Taman Kencana, Gunung Gede and Cilibende, IPB also has Darmaga Campus, Garden of Pasir Sarongge, Garden of Sukamantri and Garden of Jonggol.
- Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) In 1957, when PII East Java held the
first lustrum, the idea was reemerged. As the result, dr. Angka
Nitisastro, a doctor, along with several engineers of PII East Java
decided to established Yayasan Perguruan Tinggi Teknik.
Some of the reasons of the establishment of that organization are: Indonesia has broad land and abundant natural resources but they are still unutilized
- There were needs of around 7000 engineers to do the development program and industry in Indonesia
- The ratio of number of engineers in developed countries and other developing countries was much bigger than in Indonesia
At 17 August 1957, Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPPT) was officially established, and chaired by dr. Agka Nitisastro.
This organization was established as a
place to think the advanced actions and consider all consequences
related to the decision making of establishing an engineering college in
Surabaya.
At 10 November 1957, YPPT founded
“PERGURUAN TEKNIK 10 NOPEMBER SURABAYA”, which was inaugurated by
President Soekarno. Perguruan Tinggi Teknik 10 Nopember Surabaya only
had two departments at that time, namely Civil Engineering and
Mechanical Engineering.
After many years of hard work pioneered
by YPPT, Perguruan Teknik 10 Nopember was changed to public institute,
with the name of “INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER DI SURABAYA”.
Instititut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya which initially had only two departments, namely Civil
Engineering and Mechanical Engineering, became to have five departments,
namely Civil Engineering, Electrical Engineering, Mechanical
Engineering, Naval Architecture and Shipbuilding Engineering and
Chemical Engineering. Those departments then changed to be faculties.
After that, with Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1961 (settled at 23
March 1961), it was decided that the first Dies Natalis of Institut
Teknologi Sepuluh Nopember was at 10 November 1960.
In 1965, based on SK Menteri No. 72
Tahun 1965, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) opened two new
faculties, namely, Faculty of Architecture Engineering and Faculty of
Science. Since that, ITS has seven faculties which were spread across
Surabaya, namely in Jalan Simpang Dukuh 11, Jalan Ketabang Kali 2F,
Jalan Baliwerti 119-121, and Jalan Basuki Rahmat 84 as the headquarter
of ITS.
In 1972, Faculty of Civil Engineering
moved to Jalan Manyar 8, so that ITS was widely spread. In late 1975,
Faculty of Architecture Engineering moved to new campus at Jalan
Cokroaminoto 12A Surabaya. In 1973, the headquarter of ITS moved to the
same address. In 1973, the master plan for long-term period (20 years)
development was developed as the guidance of ITS next development.
The master plan of ITS development drew
interest of Asian Development Bank (ADB), which was then offered to lend
the money of $ 25 million for the development of four faculties, namely
Faculty of Civil Engineering, Faculty of Mechanical Engineering,
Faculty of Electrical Engineering, and Faculty of Chemical Engineering.
In 1977, the fund from ADB was partly
used to build Sukolilo campus for those faculties. In 1981, the
construction of Sukolilo campus was partly done. The first step of
Sukolilo campus construction was done at 27 March 1982.
In 1983, ITS experienced the change in
organizational structure following Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun
1980. Based on Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1981 and Keputusan
Presiden No. 58 tahun 1982, ITS became to have only five faculties,
namely Faculty of Industrial Engineering, Faculty of Naval Architecture
and Shipbuilding Engineering, Faculty of Civil Engineering and Planning,
Faculty of Mathematics and Science, and Faculty of Non-Degree
Technology (Non-degree programs).
Since 1991, ITS became to have four
faculties, namely Faculty of Mathematics and Science (FMIPA), Facult y
of Industrial Technology (FTI), Faculty of Civil Engineering and
Planning (FTSP), and Faculty of Naval Technology (FTK). The departments
within the Faculty of Non-Degree Technology were integrated into similar
departments in Faculty of Industrial Technology and Faculty of Civil
Engineering and Planning. Besides that, ITS also has two polytechnics,
namely Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan Politeknik
Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
In 1994, ITS received fund from ADB as
much as $ 47 million for the development of all faculties which were
focusing on naval technology. This program finished on April 2000.
Besided that, ITS also received the fund from German government/GTZ
(1978-1986) for the development of Faculty of Naval Architecture and
Shipbuilding Engineering.
In 2001, based on SK Rektor tanggal 14
Juni 2001, ITS established the new faculty, namely Faculty of
Information Technology (FTIF) which consists of two departments, namely
Informatics Engineering and Information System.
10. Universitas Gunadarma Indonesia is continually facing the wave of computerization, this
happened to be the answer of a question about the needs of computer
education for the nation. Hence, in August 7th 1981 a computer education
program was launched by the name of Computer Science Education Program.
This program provides not only a course deals with computer utilization
but also a high education institution that deepen the knowledge of
computer science.
The proof showed an improvement, thus, a foundation of Mathematics
Research Operation and System Analyst Development was formed to
accommodate Computer Science Education Program that later turned out to
be Indonesia Computer Science Academy.
The road to perfection hadn’t stopped yet; the academy was raising level
to a High School. For the intention, the school must have the same name
as the Foundation’s that runs it.
Eventually by the date of August 14th 1984, Kopertis III consolidated
the name Gunadarma Computer and Informatics Management High School
(STMIK Gunadarma) along with the name of Gunadarma Education Foundation.
The name of “Gunadarma” was chosen the inspirational thoughts of an
architect that built one of “Seven World of wonder”, that is Borobudur
Temple, by the era of Syailendra dynasty. More over, Gunadarma means
also a sincere intention of dedication to the society through a high
school.
STMIK Gundarma was located in Jalan Salemba Raya 53, Jakarta. A year
after the consolidation, Department of Education and Culture gave a
status of “terdaftar” (listed) to STMIK Gunadarma through a decree of
Minister of Education and Culture number 0424/0/1985 for Diploma 3 and
Strata 1 title, in October 5th 1985.
The world of computer education that infects business world has proven
to be interesting for public. The enthusiasm made the campus could not
accommodate any longer until finally STMIK Gunadarma opened its new
campus in Pondok Cina, Depok. More over, the quality of education was
improved to accommodate public demands. This achievement ought STMIK
Gunadarma into the status of “disamakan” (equalized) through the decree
of Minister of Education and Culture number 0490/0/1989 in August 1989.
The success doesn’t stop here; the foundation produced another high
school named Gunadarma Economic High School (STIE Gunadarma) in January
13th 1990 with its main program is Economic Science divided into the
majors of Management and Accounting emphasized in computer application.
By the decree of General Director of DIKTI number 92/Kep/Dikti/1996
dated April 3rd 1996, these two high schools were merged into GUNADARMA
UNIVERSITY.
This merger was intended to create a huge basis to anticipate the future
by producing professional, reliable successors in the basis of
information technology for the nation facing the globalization
Post a Comment