Menempa ilmu di Perguruan Tinggi sangat didambakan bagi lulusan-lulusan SMA dan/atau SMK. Tak mengherankan, banyak siswa lulusan SMA dan/atau SMK mencari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang difavoritkan banyak orang, mulai dari bertanya rekan; lulusan mana, dan mencari/
googling PTN mana yang meluluskan sarjana yang berkompeten. Menurut
lembaga survei (Webometrics) yang telah melakukan penilaian, sepuluh Universitas terbaik di Indonesia dengan
menggunakan dua faktor, yaitu Visibility (Impact) dan Activity
(Presence, Openess, dan Excellent) adalah sebagai berikut.
- Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi didirikan pada tanggal 19 Desember 1949
dan merupakan Universitas yang bersifat nasional. Selain itu Universitas
Gadjah Mada juga berperan sebagai pengemban Pancasila dan Universitas
pembina di Indonesia Pada saat didirikan, Universitas Gadjah Mada hanya
memiliki enam fakultas, sekarang memiliki 18 Fakultas, satu sekolah
Pascasarjana (S-2 dan S-3), dan satu Sekolah Vokasi. Universitas Gadjah
Mada termasuk universitas yang tertua di Indonesia, berlokasi di Kampus
Bulaksumur Yogyakarta. Sebagian besar fakultas dalam lingkungan
Universitas Gadjah Mada terdiri atas beberapa jurusan/bagian dan atau
program studi. Kegiatan Universitas Gadjah Mada dituangkan dalam bentuk
Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan dan Pengajaran,
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
- Institute Teknologi Bandung (ITB) didirikan pada tanggal 2 Maret 1959. Kampus utama ITB saat ini
merupakan lokasi dari sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia.
Walaupun masing-masing institusi pendidikan tinggi yang mengawali ITB
memiliki karakteristik dan misi masing-masing, semuanya memberikan
pengaruh dalam perkembangan yang menuju pada pendirian ITB.
Sejarah ITB bermula seja awal abad kedua puluh, atas prakarsa
masyarakat penguasa waktu itu. Gagasan mula pendirianya terutama
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit
karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah
jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia
Pertama. De Techniche Hoogeschool te Bandung berdiri tanggal 3 Juli 1920 dengan satu fakultas de Faculteit van Technische Wetenschap yang hanya mempunyai satu jurusan de afdeeling der Weg en Waterbouw.
Didorong oleh gagasan dan keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan Proklamasi Kemerdekaan serta wawasan ke masa depan, Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung pada tanggal 2 Maret 1959 .
Berbeda dengan harkat pendirian lima perguruan tinggi teknik sebelumnya
di kampus yang sama, Institut Teknologi Bandung lahir dalam suasana
penuh dinamika mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi,
yang berpijak pada kehidupan nyata di bumi sendiri bagi kehidupan dan
pembangunan bangsa yang maju dan bermartabat.
Kurun dasawarsa pertama tahun 1960-an ITB mulai
membina dan melengkapi dirinya dengan kepranataan yang harus diadakan.
Dalam periode ini dilakukan persiapan pengisian-pengisian organisasi
bidang pendidikan dan pengajaran, serta melengkapkan jumlah dan
meningkatkan kemampuan tenaga pengajar dengan penugasan belajar ke luar
negeri.
Kurun dasawarsa kedua tahun 1970-an ITB diwarnai
oleh masa sulit yang timbul menjelang periode pertama. Satuan akademis
yang telah dibentuk berubah menjadi satuan kerja yang juga berfungsi
sebagai satuan sosial-ekonomi yang secara terbatas menjadi institusi
semi-otonomi. Tingkat keakademian makin meningkat, tetapi penugasan
belajar ke luar negeri makin berkurang. Sarana internal dan kepranataan
semakin dimanfaatkan.
Kurun dasawarsa ketiga tahun 1980-an ditandai
dengan kepranataan dan proses belajar mengajar yang mulai memasuki era
modern dengan sarana fisik kampus yang makin dilengkapi. Jumlah lulusan
sarjana makin meningkat dan program pasca sarjana mulai dibuka. Keadaan
ini didukung oleh makin membaiknya kondisi sosio-politik dan ekonomi
negara.
Kurun dasawarsa keempat tahun 1990-an perguruan
tinggi teknik yang semula hanya mempunyai satu jurusan pendidikan itu,
kini memiliki dua puluh enam Departemen Program Sarjana, termasuk
Departemen Sosioteknologi, tiga puluh empat Program Studi S2/Magister
dan tiga Bidang Studi S3/Doktor yang mencakup unsur-unsur ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, bisnis dan ilmu-ilmu kemanusiaan.
- Universitas Indonesia (UI) Universitas Indonesia adalah kampus modern, komprehensif, terbuka,
multi budaya, dan humanis yang mencakup disiplin ilmu yang luas. UI saat
ini secara simultan selalu berusaha menjadi salah satu universitas
riset atau institusi akademik terkemuka di dunia. Sebagai universitas
riset, upaya-upaya pencapaian tertinggi dalam hal penemuan, pengembangan
dan difusi pengetahuan secara regional dan global selalu dilakukan.
Sementara itu, UI juga memperdalam komitmen dalam upayanya di bidang
pengembangan akademik dan aktifitas penelitian melalui sejumlah disiplin
ilmu yang ada dilingkupnya.
UI berdiri pada tahun 1849 dan
merupakan representasi institusi pendidikan dengan sejarah paling tua di
Asia. Telah menghasilkan lebih dari 400.000 alumni, UI secara kontinyu
melanjutkan peran pentingnya di level nasional dan dunia. Bagaimanapun
UI tidak bisa melepaskan diri dari misi terkininya menjadi institusi
pendidikan berkualitas tinggi, riset standar dunia dan menjaga standar
gengsi di sejumlah jurnal internasional nomor satu.
Secara geografis, posisi kampus UI berada di dua area berjauhan,
kampus Salemba dan kampus Depok. Mayoritas fakultas berada di Depok
dengan luas lahan mencapai 320 hektar dengan atmosfer green campus
karena hanya 25% lahan digunakan sebagai sarana akademik, riset dan
kemahasiswaan. 75% wilayah UI bisa dikatakan adalah area hijau berwujud
hutan kota dimana di dalamnya terdapat 8 danau alam. Sebuah area yang
menjanjikan nuansa akademik bertradisi yang tenang dan asri.
- Universitas Airlangga (UNAIR) Sejarah Universitas Airlangga berawal dari cikal-bakal lembaga
pendidikan Nederlands Indische Artsen School (NIAS) dan School Tot
Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT), masing-masing didirikan oleh
pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913 dan 1928. Setelah masa
pergolakan kemerdekaan sempat terganggu kelancarannya, pada tahun 1948
pemerintah pendudukan Belanda mendirikan Tandheelkunding Instituut yang
merupakan cabang Universiteit van Indonesie Jakarta dan membuka kembali
NIAS dengan nama Faculteit der Geneeskunde yang juga sebagai cabang
Universiteit van Indonesie Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia
baru resmi membuka Universitas Airlangga Surabaya yang merupakan
lembaga pendidikan tinggi pertama di kawasan timur Indonesia – pada
tahun 1954. Peresmian Universitas Airlangga dilakukan oleh Presiden RI
pertama, Dr. Ir. Soekarno, yang bertepatan dengan peringatan hari
Pahlawan yang ke-9, tanggal 10 November 1954. Secara legal pendiriannya
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No. 57/1954.
- Universitas Padjadjaran (UNPAD)
Pada tahun 1950-an, di Bandung sebenarnya telah ada perguruan tinggi
seperti Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA yang merupakan bagian dari
Universitas Indonesia (UI) dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG).
Namun, masyarakat menghendaki sebuah universitas negeri yang
menyelenggarakan pendidikan dari berbagai disiplin ilmu. Perhatian
pemerintah daerah dan pemerintah pusat sangat besar terhadap perlu
adanya universitas negeri di Bandung, terutama setelah Bandung dipilih
sebagai kota penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955.
Oleh karena itu, pada tanggal 14 Oktober 1956 terbentuklah Panitia
Pembentukan Universitas Negeri (PPUN) di Bandung. Pembentukan PPUN
tersebut berlangsung di Balai Kotapraja Bandung. Pada rapat kedua
tanggal 3 Desember 1956, panitia membentuk delegasi yang terdiri dari
Prof. Muh. Yamin, Mr. Soenardi, Mr. Bushar Muhammad, dan beberapa orang
tokoh masyarakat Jawa Barat lainnya. Tugas delegasi adalah menyampaikan
aspirasi rakyat Jawa Barat tentang pendirian universitas negeri di
Bandung kepada Pemerintah, DPR Kabupaten dan Kota Besar Bandung,
Gubernur Jawa Barat, Presiden UI, Ketua Parlemen, Menteri PPK, bahkan
kepada Presiden Republik Indonesia.
Delegasi berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga
pemerintah melalui SK Menteri PPK No. 11181/S tertanggal 2 Februari
1957, memutuskan membentuk Panitia Negara Pembentukan Universitas Negeri
(PNPUN) di Kota Bandung.
Pada tanggal 25 Agustus 1957 dibentuk Badan Pekerja (BP) dan PNPUN
tersebut yang diketuai oleh R. Ipik Gandamana, Gubernur Jawa Barat. BP
dibentuk dengan tujuan untuk mempercepat proses kelahiran UN tersebut.
Hasil dari BP adalah lahirnya Universitas Padjadjaran (Unpad) pada hari
Rabu 11 September 1957, dikukuhkan berdasarkan PP No. 37 Tahun 1957
tertanggal 18 September 1957 (LN RI No. 91 Tahun 1957).
Kemudian berdasarkan SK Menteri PPK No. 91445/CIII tertanggal 20
September , status dan fungsi BP diubah menjadi Presidium Unpad yang
dilantik oleh Presiden RI tanggal 24 September 1957 di kantor Gubernuran
Bandung.
Adapun nama “Padjadjaran” diambil dari nama Kerajaan Sunda, yaitu
Kerajaan Padjadjaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi atau Prabu
Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Pakuan Padjadjaran (1473-1513 M).
Nama ini adalah nama yang paling terkenal dan dikenang oleh rakyat Jawa
Barat, karena kemashuran sosoknya di antara raja-raja yang ada di tatar
Sunda ketika itu.
Pada saat berdirinya, Unpad terdiri dari 4 fakultas: Fakultas Hukum
dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ekonomi (keduanya berawal dari
Yayasan Universitas Merdeka di Bandung), Fakultas Keguruan & Ilmu
Pendidikan (FKIP, penjelmaan dari PTPG di Bandung), dan Fakultas
Kedokteran.
Pada 18 September 1960, dibuka Fakultas Pendidikan Jasmani (FPJ)
sebagai perubahan dari Akademi Pendidikan Jasmani. Pada tahun 1963-1964,
FPJ dan FKIP melepaskan diri dari Unpad dan masing-masing menjadi
Sekolah Tinggi Olah Raga dan Institut Keguruan & Ilmu Pendidikan
(IKIP, sekarang Universitas Pendidikan Indonesia).
Dalam kurun waktu 6 tahun, di lingkungan Unpad bertambah 8 fakultas
yakni: Fakultas Sosial Politik (13 Oktober 1958, sekarang FISIP),
Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA, 1 November
1958), Fakultas Sastra (1 November 1958, kini menjadi Fakultas Ilmu
Budaya), Fakultas Pertanian (Faperta, 1 November 1959), Fakultas
Kedokteran Gigi (FKG, 1 November 1959), Fakultas Publisistik (18
September 1960, sekarang menjadi Fikom), Fakultas Psikologi (FPsi, 1
September 1961), dan Fakultas Peternakan (Fapet, 27 Juli 1963).
Tahun 2005, Unpad membuka 3 fakultas baru Fakultas Ilmu Keperawatan
(FIK, 8 Juni 2005), Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan (FPIK, 7 Juli
2005), dan Fakultas Teknik Industri Pertanian (FTIP, 13 September
2005).
Selama 2 tahun kemudian, Unpad meningkatkan status 2 jurusan di
FMIPA, yaitu Jurusan Farmasi menjadi Fakultas Farmasi (17 Oktober
2006), serta Jurusan Geologi menjadi Fakultas Teknik Geologi (FTG, 12
Desember 2007).
Dalam rangka meningkatkan performa universitas, pada 7 September
1982, Unpad membuka Fakultas Pascasarjana. Fakultas ini menyelenggarakan
pendidikan jenjang S-2 (Program Magister) dan S-3 (program Doktor).
Pada perkembangan selanjutnya, Fakultas Pascasarjana statusnya berubah
menjadi Program Pascasarjana. Sebagai upaya memenuhi tenaga-tenaga
terampil ahli madya, maka Unpad juga menyelenggarakan pendidikan Program
Diploma (S-0) untuk beberapa bidang ilmu.
Kepemimpinan di Unpad pun mengalami perkembangan, baik para pejabat,
struktur, maupun bentuk organisasinya. Kepemimpinan yang pertama
berbentuk presidium, dengan ketua R. Ipik. Gandamana, Wakil Ketua R.
Djusar Subrata, serta Sekretaris Mr. Soeradi Wikantaatmadja dan R
Suradiradja.
Selanjutnya pad 6 November 1957 diangkat Presiden Unpad yaitu Mr. Iwa
Koesoemasoemantri, berdasarkan SK Presiden RI No. 14/M/1957, tertanggal
1 Oktober 1957. Pengambilan sumpah dilakukan di Istana Negara. Dalam
pelaksanaan tugasnya, Presiden Unpad didampingi Senat Universitas dengan
Sekretaris Prof. M. Sadarjun Siswomartojo, Kusumahatmadja, dan Mr.
Bushar Muhammad.
Sejak 1963, sebutan Presiden Universitas diubah menjadi Rektor dan
sebutan Sekretaris Universitas atau Kuasa Presiden diubah menjadi
Pembantu Rektor.
Adapun susunan pejabat Rektor Unpad sejak awal berdirinya hingga sekarang sebagai berikut.:
1957-1961 Prof. Iwa Koesoemasoemantri, S.H.
1961-1964 Prof. R. G. Soeria Soemantri, drg.
1964-1966 Moh. Sanusi Hardjadinata
1966-1973 Prof. R. S. Soeria Atmadja
1973-1974 Prof. Dr. Muchtar K., S.H., LL.M.
1974-1982 Prof. Dr. Hindersah Wiraatmadja
1982-1990 Prof. Dr. Yuyun Wirasasmita, M.Sc.
1990-1998 Prof. Dr. H. Maman P. Rukmana
1998-2007 Prof. Dr. H. A. Himendra Wargahadibrata, dr., Sp.An., KIC
2007-sekarang Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA.
Kampus Jatinangor
Terinspirasi oleh “Kota Akademik Tsukuba”, Rektor keenam Unpad, Prof.
Dr. Hindersah Wiraatmadja menggagas “Kota Akademis Manglayang”, yang
terletak di kawasan kaki Gunung Manglayang.
Konsep tersebut menjawab permasalahan kampus Unpad yang tersebar di
13 lokasi yang berbeda sehingga menyulitkan koordinasi dan pengembangan
daya tampung, selain untuk meningkatkan produktivitas, mutu lulusan, dan
pengembangan sarana/prasarana fisik.
Sejak tahun 1977, Unpad merintis pengadaan lahan yang memadai dan
tahun 1979 baru disepakati dengan adanya penunjukkan lahan bekas
perkebunan di Jatinangor.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 593/3590/1987,
kawasan itu meliputi luas 3.285,5 Hektar, terbagi dalam 7 wilayah
peruntukkan. Khusus untuk Unpad, wilayah pengembangan kampus di
Jatinangor mencakup 175 h.
Secara bertahap, Unpad telah mulai memindahkan kegiatan pendidikannya
ke Jatinangor sejak 1983, yang diawali oleh Fakultas Pertanian.
Kemudian diikuti oleh fakultas-fakultas lainnya yang ada di lingkungan
Unpad. Pada 5 Januari 2012, gedung Rektorat Unpad resmi pindah ke
Jatinangor.
- Universitas Brawijaya (UNBRAW) diresmikan sebagai Universitas Negeri pada tahun 1963. Saat ini UB
merupakan salah satu universitas negeri yang terkemuka di Indonesia
yang mempunyai jumlah mahasiswa lebih dari 50 ribu orang dari berbagai
strata mulai program Diploma, Program Sarjana, Program Magister dan
Program Doktor selain Program Spesialis tersebar dalam 12 Fakultas dan 4
program pendidikan setara fakultas.
Kampus UB berada di kota Malang Jawa Timur, dengan lokasi yang mudah
terjangkau oleh kendaraan umum. Kampusnya sangat asri karena banyaknya
pepohonan dan ditunjang oleh hawa sejuk kota Malang. Sejarah
membuktikan keberadaan Kota Malang sebagai kota pendidikan tempat UB
tumbuh dan berkembang pesat. Ini tidak terjadi dengan sendirinya tapi
seakan merupakan proses sejarah yang tidak terpisahkan dari kejayaan
Jawa Timur di masa lampau.
Nama
Universitas Brawijaya diberikan oleh Presiden Republik Indonesia
melalui kawat nomor 258/K/61 tanggal 11 Juli 1961. Nama ini berasal dari
gelar Raja-Raja Majapahit yang merupakan kerajaan besar di Indonesia
pada abad 12 sampai 15. Universitas Brawijaya dinegerikan berdasarkan
Surat Keputusan Presiden Nomor 196 tahun 1963 dan berlaku sejak 5
Januari 1963. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir
(Dies Natalis) Universitas Brawijaya. Perjalanan Universitas Brawijaya
sebelum dinegerikan diawali pada tahun 1957 di Malang berdiri cabang
Universitas Sawerigading Makassar yang hanya terdiri dari dua fakultas
yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Kemudian pada tanggal 1 Juli
1960 diganti namanya menjadi Universitas Kotapraja Malang. Dibawah
naungan Universitas tersebut beberapa bulan berikutnya terdapat tambahan
dua fakultas yaitu Fakultas Administrasi Niaga (FAN) dan Fakultas
Pertanian (FP). Universitas Kotapraja Malang inilah yang kemudian
diganti namanya menjadi Universitas Brawijaya.
Pada
saat dinegerikan, Universitas Brawijaya hanya mempunyai 5 fakultas
yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ketatanegraan dan
Ketataniagaan (FKK merupakan perluasan dari FAN dan saat ini namanya
adalah Fakultas Ilmu Administrasi - FIA), Fakultas Pertanian dan
Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP). FKHP kemudian dipecah
menjadi dua fakultas pada tahun 1973, yaitu Fakultas Peternakan (FPt)
yang berada di Universitas Brawijaya dan Fakultas Kedokteran Hewan yang
berada dibawah naungan Universitas Airlangga. Fakultas Teknik (FT)
berdiri tahun 1963 berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP nomor 167
tahun 1963 tertanggal 23 Oktober 1963.
Berdasarkan SK Presiden Nomor 59 tahun 1982
tanggal 7 September 1982 tentang struktur organisasi Universitas
Brawijaya, Fakultas Perikanan (FPi) menjadi fakultas tersendiri karena
sejak tahun 1977 digabung menjadi satu dengan Fakultas Peternakan dengan
nama Fakultas Peternakan dan Perikanan. Sebagai catatan bahwa Fakultas
Perikanan telah berdiri sejak tahun 1963 di Probolinggo yang
merupakan Jurusan dari FKHP Universitas Brawijaya. Fakultas Kedokteran
(FK) secara resmi berada di bawah Universitas Brawijaya sejak tahun
1974 setelah sejak berdirinya tahun 1963 dibawah Yayasan Perguruan
Tinggi Jawa Timur. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
(FMIPA), diresmikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 0371/O/1993 tanggal 21 Oktober 1993. Universitas
Brawijaya menambah satu lagi fakultas yaitu Fakultas Teknologi
Pertanian (FTP) yang merupakan peningkatan satus dari Jurusan Teknologi
Pertanian yang sebelumnya berada di Fakultas Pertanian.
Lagu Hymne
Brawijaya diciptakan oleh seorang mahasiswa FKHP Yanardhana pada tahun
1963, sedangkan Mars Universitas Brawijaya diciptakan oleh Lilik
Sugiarto tahun 1996. Kedua lagu ini masih digunakan sampai sekarang.
- Universitas Diponegoro (UNDIP) Sekitar awal tahun 1950-an masyarakat Jawa Tengah pada umumnya dan
masyarakat Semarang khususnya, membutuhkan kehadiran sebuah universitas
sebagai pelaksana pendidikan dan pengajaran tinggi. Hal itu untuk
membantu pemerintah dalam menangani dan melaksanakan pembangunan di
segala bidang. Pada waktu itu di Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta
hanya memiliki Universitas Gajah Mada yang berstatus sebagai universitas
negeri.
Jumlah lulusan SMU di Jawa Tengah bagian utara yang
akan melanjutkan pendidikan tinggi di universitas makin meningkat, namun
karena masih sangat terbatasnya universitas yang ada, sehingga tidak
semua lulusan dapat tertampung. Menyadari akan kebutuhan pendidikan
tinggi yang semakin mendesak, kemudian dibentuk Yayasan Universitas
Semarang dengan Akte Notaris R.M. Soeprapto No. 59 tanggal 4 Desember
1956 sebagai langkah awal didirikannya universitas di Semarang dengan
nama Universitas Semarang.
Beberapa tokoh yang memprakarsai
berdirinya Universitas Semarang diantaranya Mr. Imam Bardjo, waktu itu
menjabat Kepala Kejaksaan atau Pengawas Kejaksaan-Kejaksaan di Jawa
Tengah dan Yogyakarta, Mr. Sudarto, Mr. Soesanto Kartoatmodjo, dan Mr
Dan Soelaiman, ketiganya jaksa di Semarang.
Sedangkan beberapa
tokoh yang ditetapkan pertama kali sebagai pengurus yayasan dalam akte
notaris, sebagai Ketua Mr. Soedarto, Wakil Ketua Mr. Dan Soelaiman,
Panitera Mr. Soesanto Kartoatmodjo, Bendahara Tuan Achmad
Tjokrokoesoemo, Pembantu Mr. Imam Bardjo, Mr. Goenawan Goetomo, Mr. Tan
Tjing Hak, dan Mr. Koo Swan Ik.
Pendirian Universitas Semarang
ternyata mendapat tanggapan dan bantuan dari berbagai pihak, khususnya
masyarakat Semarang, Pemda Propinsi Jawa Tengah, serta Pemkot Semarang.
Secara resmi Universitas Semarang dibuka pada tanggal 9 Januari 1957,
sebagai Presiden Universitas diangkat Mr. Imam Bardjo. Waktu itu beliau
juga memberikan mata kuliah umum Hak-hak Azasi Manusia.
Mengingat
usianya yang masih sangat muda dengan sarana dan prasarana pendidikan
yang masih sangat terbatas, maka pada waktu itu baru dapat dibuka
Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat. Sebagai dekan pertama, Mr. R.
Soebijono Tjitrowinoto. Kemudian pada tanggal 1 Maret 1957 dibuka
pendidikan Akademi Administrasi Negara yang kemudian berubah menjadi
Fakultas Sosial dan Politik, dengan dekan pertama Mr. R. Goenawan
Goetomo.
Akademi Tata Niaga atau yang sekarang menjadi Fakultas
Ekonomi dibuka pada tanggal 21 September 1958, sebagai dekan pertama,
Dr. Tjioe Sien Kiong. Sedangkan pendidikan Akademi Teknik, yang kemudian
menjadi Fakultas Teknik, dibuka pada tanggal 20 Oktober 1958, dengan
dekan pertama, Prof. Ir. R. Soemarman.
Akademi Teknik
Pendirian
Akademi Teknik tak terlepas dari jasa Prof. Dr. Ir. Jakub Rais, M.Sc,
mantan Caretaker Rektor UNDIP periode Oktober 1965 sampai Desember 1966.
Sejak tahun 1956, Prof. Jakub Rais, sudah tinggal di Semarang sebagai
Kepala Kantor Pendaftaran Tanah. Ia alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan
Teknik Universitas Indonesia, di Bandung, kini menjadi ITB, pada akhir
1955. Di masa penjajahan dulu disebut kantor itu disebut Kadaster dan
kini dinamakan Badan Pertahanan Nasional.
Pada tahun 1957, ada
suatu peristiwa yang mengubah sama sekali jalan hidupnya. Suatu sore, ia
mengantar istrinya ke Toko “De Zon” di Jalan Bojong, kini menjadi pasar
swalayan. Ia berdiri di luar toko, di bawah tiang listrik. Ketika ia
melihat orang berlalu lalang, ada seseorang yang telah ia kenal
sebelumnya sebagai Menteri Agraria periode 1955/1956, yaitu Mr. R.
Gunawan Gutomo.
Dalam pertemuan itu, Mr. Gunawan mengajaknya
untuk bergabung dengan sekelompok para sarjana hukum dari kantor
kejaksaan di Semarang yang telah mendirikan Universitas Semarang. Mereka
yaitu, Imam Barjo SH, Soedarto SH, Soesanto Kartoatmojo, SH, dan
Sulaiman, SH. Sedang Mr. Gunawan dari Pengadilan Negeri Semarang, dan
pernah menjadi Jaksa Agung di masa Presiden Soekarno. Mr Gunawan
memintanya mendirikan Akademik Teknik. Waktu itu Universitas Semarang
terdiri dari akademi-akademi, antara lain Akademi Tata Niaga dan Akademi
Tata Negara.
Gagasan di bawah tiang listrik dan di tepi
jalan itu membuatnya berpikir dan akhirnya terasa terpanggil untuk
menindak lanjuti gagasan Akademi Teknik ini. Ketika itu umurnya 29
tahun. Ia kebetulan mempunyai teman, Ir.Moeljadi Banuwidjojo, kini sudah
meninggal, Kepala Dinas Kehutanan di Semarang, yang sama-sama bergabung
dalam Rotary Club Semarang. “Saya dan Moeljadi kemudian merancang suatu
pertemuan dengan beberapa insinyur sipil dari Dinas Pekerjaan Umum Jawa
Tengah,” ungkap Prof Jakub Rais.
Beberapa teman juga
dihubunginya, seperti Ir. Oesman Djojodinoto, Ir. Ibnu, Ir. Lie Kok
Gwan, pengusaha juga anggota Rotary Club), Ir. Oei Djwee Hwie, Ir.
Sunardi dan Ir. Tjoa Teng Kie. Ir. Sunardi kemudian menjadi pegawai
negeri UNDIP dan guru besar di Fakultas Teknik UNDIP. Seorang insinyur
sipil di Jawatan Kereta Api, Ir. Imam Subarkah, juga diajaknya
bergabung. Dan kebetulan Kepala Jawatan Umum waktu itu adalah Prof. Ir.
Soemarman, gurubesar luar biasa Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada.
Beliau dengan senang hati bergabung untuk mendirikan Akademik
Teknik Universitas Semarang. Jumlah insinyur di kota Semarang hanya ada
sembilan orang pada tahun 1958. Sebagian besar lulusan TH Bandung di
zaman Belanda dan TH Delft di negeri Belanda, dan sembilan insinyur
itulah yang menyusun kurikulum sampai tingkat bakaloreat.
Dengan
selesainya kurikulum maka pas tanggal 1 September 1958 berdirilah
Akademi Teknik Universitas Semarang, Jurusan Teknik Sipil dengan Prof.
Ir. Sumarman sebagai Dekan dan Jacub Rais sebagai Sekretaris, yang
mendapat tunjangan jabatan sebesar Rp. 500. Mahasiswa pertama sebanyak
15 orang dan kuliah dilakukan di beberapa lokasi, karena belum ada
gedung, kadang-kadang di gedung bioskop, rumah di Jalan Beringin
(kantor Yayasan Universitas Semarang) dan kemudian mendapat gedung
tetap bekas bioskop di Jalan MT. Haryono No. 427 milik Pepekuper
Teritorium IV, sebagai kampusnya
Perkuliahan dilakukan pada
sore hari juga dengan meminjam sebuah gedung di sekitar Tugu Muda (saat
ini menjadi gedung Wisma Perdamaian). Berikutnya pada periode yang lebih
mapan Fakultas Teknik pindah ke “Gedung Putih“ di Kampus Pleburan / Jl.
Hayam Wuruk. Pada tahun 1996 sampai dengan sekarang Kampus Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro pindah ke Tembalang, yang dibangun melalui
proyek Six Universities Development and Rechabilitation (SUDR).
Sejak
Universitas Diponegoro diresmikan sebagai perguruan tinggi negeri pada
tanggal 15 Oktober 1960, Fakultas Teknik sebagai pencetak sumber daya
manusia yang berkualitas, terus mengembangkan diri dengan mendirikan
Jurusan /Program Studi yang dibutuhkan masyarakat. Jurusan Teknik
Sipil merupakan jurusan yang pertama, dengan Ketua Jurusan merangkap
Dekan Fakultas Teknik pertama Prof. Ir. Soemarman. Jurusan Teknik Sipil
terakreditasi A melalui SK BAN Perguruan Tinggi No.
021/BAN-PT/AK-VII/S1/VI2004. Pada tahun 1997 Jurusan Teknik Sipil
melahirkan Program Magister Teknik Sipil (S2, dan pada bulan Juni 2004
ikut membidani berdirinya Program Doktor Teknik Sipil (S3).
Pada
tahun 1962, dibuka Jurusan Teknik Arsitektur dengan Ketua Jurusan
pertama dijabat oleh Ir. Sidharta (sekarang Prof. Ir. Sidharta, yang
telah pensiun). Jurusan Arsitektur terakreditasi A pada bulan Juni-2003.
Jurusan Arsitektur juga melahirkan Program Magister Teknik Arsitektur
(S2) pada tahun 1998, dan bersama-sama Jurusan Pengembangan Wilayah dan
Kota pada tahun 2004 juga mendirikan Program Doktor Teknik Arsitektur
dan Perkotaan (PDTAP).
Pada tahun 1965 dibuka Jurusan Teknik
Kimia dengan Ketua Jurusan pertama dijabat oleh Ir. Nisyamhuri (kini
sudah pensiun). Pada bulan September 2003 Jurusan Teknik Kimia telah
terakreditasi A. Pada tahun 2005 juga melahirkan Program Magister Teknik
Kimia (S2).
Pada tahun 1969 dibuka Jurusan Matematika. Setelah
menghasilkan banyak sarjana Matematika, mulai tahun 1988 Jurusan
Matematika tidak lagi bernaung dibawah Fakultas Teknik, melainkan masuk
menjadi satu Jurusan di Badan Pengelola MIPA (Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam) dan sekarang menjadi Fakultas MIPA.
Pada tahun
pertama Universitas Semarang dipimpin oleh Presiden Universitas Imam
Bardjo, SH dan Wakilnya Soedarto, SH. Sangat disayangkan Imam Bardjo, SH
meninggal dalam masa jabatanya dan diganti oleh Soedarto SH. Pimpinan
universitas waktu itu dinamakan Presiden Universitas dan
pembantunya/wakilnya disebut Kuasa Presiden I (Akademis) dan Kuasa
Presiden II (Administrasi dan Keuangan). Dalam masa kepemimpinan
Soedarto SH, Jacub Rais diangkat sebagai Kuasa Presiden I.
Menjadi Undip
Dalam
masa-masa itulah ada upaya-upaya Universitas Semarang menjadi
Universitas Negeri Jawa Tengah dengan dukungan Pemerintah Daerah dan
masyarakat, karena memang belum ada universitas negeri di provinsi ini.
Sebagai Kuasa Presiden I, ia menyiapkan semua perangkat akademis yang
disyaratkan, seperti adanya senat dan merubah akademi menjadi
fakultas-fakultas serta mengangkat pinpinan fakultas. Namun, syarat
utama yang paling penting adalah minimum harus ada dua tenaga tetap
pegawai universitas.
“Mas Darto, panggilan saya kepada
Soedarto, SH, mengajak saya bersama beliau untuk membuat pernyataan
bersedia menjadi dosen atau pegawai universitas yang akan di negerikan
kemudian. Karena itu pula saya menyampaikan surat kepada Jawatan
Pendaftaran Tanah,” katanya. Akhirnya keluar juga Surat Keputusan
Pelimpahannya dari Kementrian Agraria ke Departemen Pendidikan dan Ilmu
Pengetahuan (PTIP). Dan Surat Keputusan Menteri PTIP No. 9197/UP/II/61
tanggal 1 Maret 1961 mengangkatnya sebagai Lektor Fakultas Teknik
Universitas Semarang dengan pangkat/golongan F/III. Demikian juga
Soedarto SH memperoleh surat lolos butuh dari kementeriannya, maka
jadilah mereka berdua “cikal bakal” universitas negeri di Jawa Tengah.
Dengan
usaha keras bolak-balik ke Jakarta akhirnya panitia penegerian
Universitas Semarang dapat bertemu dengan Presiden Soekarno pada tanggal
9 Januari 1960 dan beliau setuju menegerikan universitas swasta ini dan
memberikan nama “Universitas Diponegoro”. Keputusan Presiden ini
kemudian dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1961 dan
Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No
101247/UU tanggal 3 Desember 1960. Keputusan tersebut berlaku surut
mulai tanggal 15 Oktober 1960 dengan ketentuan tanggal tersebut
merupakan Dies Natalis Undip.
Penetapan tahun 1957 sebagai tahun
berdirinya Undip, dengan memperhatikan realitas sejarah dimana
Universitas Semarang sebagai universitas swasta - yang berdiri tahun
1957- merupakan embrio dari Undip sebagai universitas negeri. Penetapan
Dies Natalis Undip tanggal 15 Oktober 1957, telah dinyatakan pada
laporan Rektor Undip dalam Dies Natalisnya yang ke 13.
Pada
awalnya 9 Januari 1960, yaitu tanggal pada waktu Presiden Soekarno
memberi nama Universitas Diponegoro diusulkan menjadi hari jadi UNDIP,
namun akhirnya kembali ditetapkan tanggal 15 Oktober 1950 sebagai hari
jadi, mengingat pada tanggal ini terjadi “pertempuran lima hari” selama
revolusi fisik di kota Semarang. UNDIP memilih tanggal ini untuk
meneruskan cita-cita pejuang kemerdekaan bangsa mengisi kemerdekaan
dengan mencerdaskan bangsa. UNDIP adalah bentuk sumbangsih para penerus
bangsa atas amanah yang ditinggalkan para pejuang kemerdekaan.
Dari
tahun 1960 sampai 1965, ia berturut-turut menjalankan tugas sebagai
Pembantu Rektor Bidang Akademis di masa Rektor Prof Soedarto SH,
kemudian di masa Presidium Universitas Diponegoro dipimpin oleh
Gubernur Mohtar di tahun 1963 dan kemudian di bawah Rektor, Prof.
Soenaryo, SH (1964-1965). Ketika terjadi peristiwa G30S/PKI pada tanggal
30 September 1965, Rektor yang setiap bulan hanya seminggu ada di
Semarang, tidak datang ketika keadaan begitu kritis di Semarang.
Menteri Pendidikan ketika itu, Mashuri SH, meneleponnya dan
menugaskannya untuk menjalankan tugas rektor dan segara menugaskan
membersihkan UNDIP dari anasir-anasir G30S/PKI. Jadilah ia caretaker
Rektor dan bersama Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kolonel dr
Soewondo, mereka berdua bertemu Komandan KMKB, Kol. Munadi, menyusun
strategi membersihkan UNDIP dari anasir-anasir PKI.
Kampus
UNDIP di Pleburan mempunyai riwayat tersendiri. Tanah di Pleburan harus
dilikuidasi dari tanah partikulir (pertikoeliere landerijen) milik raja
gula, Oei Tiong Ham di Semarang dan menjadi tanah negara pada tahun
1958. Tanah partikulir adalah tanah negara yang dijual oleh Gubernur
Jenderal Daendels (1818-1825) kepada swasta. Untuk mengembangkan UNDIP,
ia masih mencari tanah untuk kampus yang lebih luas. Pada waktu itu ia
meneliti tanah Kalipancur, di Semarang Barat, bekas lapangan udara di
zaman Belanda dan Jepang. Daerah ini suatu plateau yang indah, namun
karena airnya harus ditarik dari Ungaran menyebabkan ia mencari
alternatif lain.
Alternatif kedua di Watugong, yang kini
menjadi kantor Kodam IV/Diponegoro. Tanah tersebut terpotong oleh jalan
ke Ungaran yang juga tanah swasta sangat luas sehingga harus
dilikuidasi karena tidak sesuai dengan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun
1960. Tanah itu sebagian besar sudah menjadi milik pribadi seorang
dokter mata di Semarang.
Kembangkan Diri
Pada
Dies Natalis ketiga, Universitas Semarang pada tanggal 9 Januari 1960,
Presiden RI, Ir. Soekarno mengganti nama Universitas Semarang menjadi
Universitas Diponegoro. Perubahan ini sebagai penghargaan terhadap
Universitas Semarang atas prestasinya dalam pembinaan bidang pendidikan
tinggi di Jawa Tengah.Universitas Diponegoro kemudian dinyatakan sebagai
universitas negeri, terhitung mulai tanggal 15 Oktober 1960. Tanggal
inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Universitas Diponegoro
(Undip). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1961, Undip,
meliputi Fakultas Hukum terdiri dari Bagian Hukum dan Bagian Sosial
Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (FKIP) dengan cabangnya di Surakarta, yang kemudian menjadi
IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Pada perkembangannya
kemudian, atas dasar Surat Keputusan Presiden RI. No. 1 tahun 1963, IKIP
Universitas Diponegoro melepaskan diri dan kemudian berdiri sendiri
sebagai IKIP Negeri di Semarang dan IKIP Negeri di Surakarta.
Fakultas
Ekonomi Universitas Diponegoro lahir pada tanggal 14 Maret 1960,
ketika sedang mempersiapkan diri sebagai Universitas Negeri. Sebelum
terbentuk Fakultas Ekonomi, yang ada di Undip adalah Akademi Tata
Niaga yang merupakan kelanjutan dari Akademi Tata Niaga Universitas
Semarang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1961 Universitas
(swasta) Diponegoro dinyatakan sebagai Universitas Negeri terhitung
mulai tanggal 15 Oktober 1960. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro
pada saat berdirinya mempunyai dua jurusan untuk program gelar yaitu
Jurusan Perusahaan dan Jurusan Umum dengan sistem pendidikan yang
disebut sistem paket. Pada tahun akademik 1980/1981 sesuai dengan
arahan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diterapkan sistem
pendidikan yang baru disebut sistem kredit. Di bawah sistem yang baru
ini nama jurusan juga diubah, yaitu masing-masing menjadi Jurusan
Manajemen dan Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.
Sejak
tahun akademik 1982/1983 dibuka jurusan baru yaitu jurusan Akuntansi di
bawah bimbingan atau pembinaan Jurusan Akuntansi Universitas Gadjah
Mada. Pada tahun 1986 sudah tidak di bawah pembinaan dari Universitas
Gadjah Mada. Dengan dileburnya Akademi Administrasi Niaga Negara
(AANN) Semarang pada Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, mulai
tahun 1975 dibuka program non gelar dengan nama Pendidikan Ahli
Administrasi Perusahaan (PAAP) yang kemudian pada tahun 1982/1983
ditingkatkan menjadi Program Diploma III Fakultas Ekonomi. Saat ini
Program Diploma III mempunyai tiga program studi yaitu Program Studi
Akuntansi, Program Studi Kesekretariatan dan Program Studi Perpajakan.
Kemudian
pada tahun 1994 dibuka Program S1 Ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro yang pada awal pendiriannya bernama Program Extension
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang didirikan berdasarkan Surat
Keputusan Rektor Universitas Diponegoro Nomor 281/SK/PT09/1993,
tanggal 27 Oktober 1993 tentang Pembentukan Program Studi S1 Manajemen,
Studi Pembangunan dan Akuntansi pada Program Extension Fakultas
Ekonomi Undip. Dengan keluarnya SK Ditjen Dikti Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 369/DIKTI/Kep.1996 tentang
Pembukaan Program Ekstensi dalam Program-program Studi Pembangunan,
Manajemen dan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro
yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Juni 1996, maka pada awal
semester genap tahun akademik 1996/1997 penggunaan istilah Program
Extension diganti dengan Program Ekstensi.
Pada tahun 1994
dibuka Program Studi Magister Manajemen (MM) yang penyelenggaraan
kegiatannya berada di Fakultas Ekonomi, sedang pengelolaannya ditangani
oleh Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Pada tahun 1999
dibuka Program Studi Magister Akuntansi (M.Si), dan tahun 2000 dibuka
Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (M.Si). Pada
tahun 2002 dibuka Program Doktor/ S-3 Ilmu Ekonomi, serta pada tahun
2003 telah dibuka Program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA).Program
gelar yaitu program sarjana menghasilkan sarjana untuk pertama kalinya
dalam tahun 1967. Antara tahun 1967 sampai dengan tahun 1977 dalam
setiap tahunnya rata-rata 37 mahasiswa dapat menyelesaikan studi
sarjananya.Sejak berlakunya sistem semester penuh (Sistem Paket) pada
tahun 1978 jumlah lulusan Sarjana Ekonomi meningkat menjadi 75 orang
per tahun.
Setelah diberlakukannya Sistem Kredit Semester
sejak tahun 1980 secara bertahap dan mulai menghasilkan Sarjana Ekonomi
sejak tahun 1984, rata-rata lulusan adalah 180 orang per tahun.
Sampai dengan tanggal 31 Juli 2006 jumlah seluruh lulusan program S1
sebanyak sebesar 8.826 orang. Sedangkan lulusan Program D III sampai
dengan tanggal 31 Juli 2006 sebanyak 7.084 orang.
Universitas
Diponegoro terus mengembangkan diri dengan melengkapi fakultas-fakultas
yang sangat dibutuhkan sebagai pencetak sumber daya manusia yang
berkualitas sarjana. Dalam kurun waktu 1961-1970, Universitas Diponegoro
telah berhasil mendirikan empat fakultas, yaitu Fakultas Kedokteran
(1961), Fakultas Peternakan (1964), Fakultas Sastra (1965) dan Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1965).
Sampai saat ini ada 11 fakultas di Undip, yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Peternakan, Fakultas Sastra, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Fakultas Psikologi.
- Institute Pertanian Bogor (IPB)
Embryonic Phase(1941-1963)
IPB's
embryonic phase of development began with the existence of institutions
of secondary and higher education in agriculture and veterinary
medicine in the early 20th century in Bogor. Before World War II the
secondary education institutions were known by the names: Middelbare
Landbouw School, Middelbare Bosbouw School and Nederlandsch Indiche
Veeartsen School.
In 1940, the Dutch government founded an
Institution of Agricultural Higher Education in Bogor with the name
Landbouw Hogeschool, which later on 31October 1941 was called
Landbowkundige Faculteit. However, it was closed during the Japanese
occupation (1942-1945), while the Nederlandsch Indische Veeartsenschool
(Veterinary School) remained to operate. But its name was changed to
Bogor Zui Gakku (Bogor Veterinary School). In line with the period of
independence in 1946, the Ministry of Prosperity, the Republic of
Indonesia upgraded the Veterinary School in Bogor to College of
Veterinary Medicine (PTKH).
In 1947 the
Institution of Agricultural Higher Education, Landbowkundige Faculteit
was reopened under the name Faculteit Voor Landbouw-Wetenschappen, which
had majors in Agriculture and Forestry. Meanwhile in 1948 PTKH or
College of Veterinary Medicine was changed to Faculteit voor Dierge
neeskunde under Universiteit van Indonesie which later changed its name
to University of Indonesia.
In1950 Faculteit voor
Landbouw-wetenschappen became Faculty of Agriculture, University of
Indonesia, with three Departments, namely, Socio-Economics, Physical
Sciences and Forestry and in 1957 the Department of Land Fishery was
formed. Meanwhile, Faculteit voor Dieergeneeskunde was changed to
Faculty of Veterinary Medicines under the University of Indonesia, and
then in 1960 the name became Faculty of Veterinary Medicines and Animal
Husbandry. In 1962 it became Faculty of Veterinary Medicine, Animal
Husbandry of the University of Indonesia.
Some
important historical milestone known in the embryonic stage are:(1) the
application of guided study system that replaced the free study system
of, (2) the idea of building a new campus in Darmaga for Faculty of
Agriculture, University of Indonesia, and (3) the application of the
philosophy “Tridharma” of Higher Education which was originally applied
in Faculty of Agriculture and the Faculty of Veterinary Medicine and
Animal Husbandry of UI by Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwidjaja.
Nationalization of Dutch companies in Indonesia entered the year 1960
and gave IPB the opportunity to expand its campus land, so in addition
to Campuses of Barangangsiang, Taman Kencana, Gunung Gede and
Cilibende, IPB also has Darmaga Campus, Garden of Pasir Sarongge, Garden
of Sukamantri and Garden of Jonggol.
- Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) In 1957, when PII East Java held the
first lustrum, the idea was reemerged. As the result, dr. Angka
Nitisastro, a doctor, along with several engineers of PII East Java
decided to established Yayasan Perguruan Tinggi Teknik.
Some of the reasons of the establishment of that organization are: Indonesia has broad land and abundant natural resources but they are still unutilized
- There were needs of around 7000 engineers to do the development program and industry in Indonesia
- The ratio of number of engineers in developed countries and other developing countries was much bigger than in Indonesia
At 17 August 1957, Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPPT) was officially established, and chaired by dr. Agka Nitisastro.
This organization was established as a
place to think the advanced actions and consider all consequences
related to the decision making of establishing an engineering college in
Surabaya.
At 10 November 1957, YPPT founded
“PERGURUAN TEKNIK 10 NOPEMBER SURABAYA”, which was inaugurated by
President Soekarno. Perguruan Tinggi Teknik 10 Nopember Surabaya only
had two departments at that time, namely Civil Engineering and
Mechanical Engineering.
After many years of hard work pioneered
by YPPT, Perguruan Teknik 10 Nopember was changed to public institute,
with the name of “INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER DI SURABAYA”.
Instititut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya which initially had only two departments, namely Civil
Engineering and Mechanical Engineering, became to have five departments,
namely Civil Engineering, Electrical Engineering, Mechanical
Engineering, Naval Architecture and Shipbuilding Engineering and
Chemical Engineering. Those departments then changed to be faculties.
After that, with Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1961 (settled at 23
March 1961), it was decided that the first Dies Natalis of Institut
Teknologi Sepuluh Nopember was at 10 November 1960.
In 1965, based on SK Menteri No. 72
Tahun 1965, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) opened two new
faculties, namely, Faculty of Architecture Engineering and Faculty of
Science. Since that, ITS has seven faculties which were spread across
Surabaya, namely in Jalan Simpang Dukuh 11, Jalan Ketabang Kali 2F,
Jalan Baliwerti 119-121, and Jalan Basuki Rahmat 84 as the headquarter
of ITS.
In 1972, Faculty of Civil Engineering
moved to Jalan Manyar 8, so that ITS was widely spread. In late 1975,
Faculty of Architecture Engineering moved to new campus at Jalan
Cokroaminoto 12A Surabaya. In 1973, the headquarter of ITS moved to the
same address. In 1973, the master plan for long-term period (20 years)
development was developed as the guidance of ITS next development.
The master plan of ITS development drew
interest of Asian Development Bank (ADB), which was then offered to lend
the money of $ 25 million for the development of four faculties, namely
Faculty of Civil Engineering, Faculty of Mechanical Engineering,
Faculty of Electrical Engineering, and Faculty of Chemical Engineering.
In 1977, the fund from ADB was partly
used to build Sukolilo campus for those faculties. In 1981, the
construction of Sukolilo campus was partly done. The first step of
Sukolilo campus construction was done at 27 March 1982.
In 1983, ITS experienced the change in
organizational structure following Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun
1980. Based on Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1981 and Keputusan
Presiden No. 58 tahun 1982, ITS became to have only five faculties,
namely Faculty of Industrial Engineering, Faculty of Naval Architecture
and Shipbuilding Engineering, Faculty of Civil Engineering and Planning,
Faculty of Mathematics and Science, and Faculty of Non-Degree
Technology (Non-degree programs).
Since 1991, ITS became to have four
faculties, namely Faculty of Mathematics and Science (FMIPA), Facult y
of Industrial Technology (FTI), Faculty of Civil Engineering and
Planning (FTSP), and Faculty of Naval Technology (FTK). The departments
within the Faculty of Non-Degree Technology were integrated into similar
departments in Faculty of Industrial Technology and Faculty of Civil
Engineering and Planning. Besides that, ITS also has two polytechnics,
namely Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan Politeknik
Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
In 1994, ITS received fund from ADB as
much as $ 47 million for the development of all faculties which were
focusing on naval technology. This program finished on April 2000.
Besided that, ITS also received the fund from German government/GTZ
(1978-1986) for the development of Faculty of Naval Architecture and
Shipbuilding Engineering.
In 2001, based on SK Rektor tanggal 14
Juni 2001, ITS established the new faculty, namely Faculty of
Information Technology (FTIF) which consists of two departments, namely
Informatics Engineering and Information System.
10.
Universitas Gunadarma Indonesia is continually facing the wave of computerization, this
happened to be the answer of a question about the needs of computer
education for the nation. Hence, in August 7th 1981 a computer education
program was launched by the name of Computer Science Education Program.
This program provides not only a course deals with computer utilization
but also a high education institution that deepen the knowledge of
computer science.
The proof showed an improvement, thus, a foundation of Mathematics
Research Operation and System Analyst Development was formed to
accommodate Computer Science Education Program that later turned out to
be Indonesia Computer Science Academy.
The road to perfection hadn’t stopped yet; the academy was raising level
to a High School. For the intention, the school must have the same name
as the Foundation’s that runs it.
Eventually by the date of August 14th 1984, Kopertis III consolidated
the name Gunadarma Computer and Informatics Management High School
(STMIK Gunadarma) along with the name of Gunadarma Education Foundation.
The name of “Gunadarma” was chosen the inspirational thoughts of an
architect that built one of “Seven World of wonder”, that is Borobudur
Temple, by the era of Syailendra dynasty. More over, Gunadarma means
also a sincere intention of dedication to the society through a high
school.
STMIK Gundarma was located in Jalan Salemba Raya 53, Jakarta. A year
after the consolidation, Department of Education and Culture gave a
status of “terdaftar” (listed) to STMIK Gunadarma through a decree of
Minister of Education and Culture number 0424/0/1985 for Diploma 3 and
Strata 1 title, in October 5th 1985.
The world of computer education that infects business world has proven
to be interesting for public. The enthusiasm made the campus could not
accommodate any longer until finally STMIK Gunadarma opened its new
campus in Pondok Cina, Depok. More over, the quality of education was
improved to accommodate public demands. This achievement ought STMIK
Gunadarma into the status of “disamakan” (equalized) through the decree
of Minister of Education and Culture number 0490/0/1989 in August 1989.
The success doesn’t stop here; the foundation produced another high
school named Gunadarma Economic High School (STIE Gunadarma) in January
13th 1990 with its main program is Economic Science divided into the
majors of Management and Accounting emphasized in computer application.
By the decree of General Director of DIKTI number 92/Kep/Dikti/1996
dated April 3rd 1996, these two high schools were merged into GUNADARMA
UNIVERSITY.
This merger was intended to create a huge basis to anticipate the future
by producing professional, reliable successors in the basis of
information technology for the nation facing the globalization