Berikut makalah tentang kalimat yang penulis munculkan kembali ketika masih menuntut ilmu di PTS di Lampung. :)
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas Sintaksis yang diberikan dosen pengampu. Shalawat
serta salam tidak lupa dicurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad
SAW, yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di yaumil Akhir. Amin.
Tugas ini sengaja dibuat dalam rangka memenuhi
kriteria penilaian dalam pencapaian nilai mata kuliah Sintaksis Bahasa
semester V (lima) di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
Muhammadiyah Kotabumi, Lampung Utara.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan
atau penyusunan tugas ini masih terdapat kekurangan yang perlu
diperbaiki. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun guna perbaikan dimasa yang akan datang.
Penulis sangat berterimakasih kepada seluruh pihak
yang telah ikut membantu menyelesaikan tugas ini terutama kepada dosen
Tugiman, S.Pd. selaku dosen pengampu. Penulis berharap semoga makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi semua dan khususnya bagi diri pribadi
penulis. Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatatuh
Kotabumi, 14 Desember 2009
Penulis,
Okta M. Putra
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
-
Latar Belakang
-
Tujuan
-
Manfaat
BAB II ISI
-
Pengertian Kalimat
-
Pola Kalimat Dasar
-
Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
-
Jenis Kalimat Menurut Bentuk Gayanya
-
Jenis Kalimat Menurut Fungsi
-
Kalimat Efektif
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
-
Simpulan
-
Saran
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
-
Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan, bahasa merupakan faktor
penting dalam penunjang keberhasilan siswa itu. Bahasa itu dapat berupa
lisan maupun tulisan. Dari penjelasan itu, bahasa dapat berupa lisan
atau tulisan, akan mudah dipahami apabila pengunaan kalimat oleh
penggunanya tepat dan dapat dimengerti orang lain. Namun, dalam
penggunaannya sering ditemukan kesalahan yang sebenarnya tidak perlu
dilakukan. Misalnya, penggunaan kata yang tidak efisien akan menimbukan
kesalahpahaman yang dapat merusak informasi.
Disamping menulis, keterampilan berbahasa lainnya
meliputi berbicara, menyimak, dan membaca, diharapkan dapat dikuasai
oleh siswa. Oleh karenanya, tuntutan zaman pun ikut menjadi faktor
penting dalam pengembangan pemahaman siswa itu.
-
Tujuan
Memberikan informasi tentang kalimat, mulai dari batasan kalimat hingga penggunaan kalimat yang efektif.
-
Manfaat
Dari tujuan di atas, maka dapat diambil manfaatnya
yaitu agar siswa dapat mengetahui, menilai, dan menggunakan kalimat yang
baik dan benar sesuai kaidah tata bahasa.
BAB II
ISI
-
Pengertian Kalimat
Menurut
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia kalimat adalah satuan bahasa
terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran
yang utuh.
Atau kalimat yang dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis,
minimal harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). kalau tidak memiliki
unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat.
Dengan kata lain, itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang
membedakan kalimat dengan frasa.
Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang
mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan
dengan suara naik turun, keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan
intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai
dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya
(?), serta tanda seru (!).
-
Pola Kalimat Dasar
Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
- KB + KK : Mahasiswa berunjuk rasa.
- KB + KS : Paman itu ramah.
- KB + KBil : Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
- KB + (KD + KB) : Tinggalnya di Palembang.
- KB1 + KK + KB2 : Mereka menonton film.
- KB1 + KK + KB2 + KB3 : Paman mencarikan saya pekerjaan.
- KB1 + KB2 : Rustam peneliti.
ketujuh pola
kalimat dasar di atas dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan
dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat
menjadi luas dan kompleks.
-
Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
Menurut
strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan
dapat pula berupa kalimat mejemuk. Kalimat majemuk dapat bersifat setara
(koordinatif),
tidak setara/bertingkat (subordinatif), ataupun campuran
(koordiatif-subordinatif). Gagasan yang tunggal dinyatakan dalam kalimat
tunggal, sedangkan gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan kalimat
majemuk. Untuk lebih jelas, berikut akan dipaparkan ulasannya.
- Kalimat Tunggal
Kalimat
tunggal, terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Pada hakikatnya,
kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat yang panjang dalam
bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada kalimat dasar yang sederhana.
Kalimat-kalimat tunggal yang sederhana itu terdiri atas satu subjek dan
satu predikat. Sehubungan dengan itu, kalimat-kalimat yang panjang itu
dapat pula ditelusuri pola-pola pembentukannya. Pola-pola itulah yang
dimaksud dengan pola kalimat dasar. Mari kita lihat sekali lagi
pola-pola kalimat dasar tersebut.
-
Mahasiswa berunjuk rasa.
(S): KB + (P): KK
-
Paman itu ramah.
(S): KB + (P): KS
Pada pola pertama,
pola yang mengandung subjek (S) kata benda adalah mahasiswa, dan
predikat (P) kata kerja yakni berunjuk rasa. Sehingga kalimat itu
menjadi Mahasiswa berunjuk rasa (S-P). Pola kedua adalah pola kalimat
yang bersubjek kata benda ialah ‘Paman itu’, dan berpredikat kata sifat
diduduki oleh kata ‘ramah’.
Kedua
pola kalimat di atas masing-masing terdiri atas satu kalimat tunggal.
Setiap kalimat tunggal di atas dapat diperluas dengan menambahkan
kata-kata pada unsur-unsurnya. Dengan menambahkan kata-kata pada
unsur-unsurnya itu, kalimat akan menjadi panjang (lebih panjang dari
pada kalimat asalnya atau aslinya), tetapi masih dapat dikenali unsur
utamanya. Kalimat Mahasiswa berunjuk rasa dapat diperluas menjadi
‘Mahasiswa semester V sedang berunjuk rasa di kantor Pemda’. Perluasan
kalimat itu adalah hasil perluasan subjek ‘mahasiswa’ dengan semester
III. Perluasan predikat berunjuk rasa dengan sedang, serta menambahkan
keterangan tempat di akhir sehingga pola kalimat tersebut menjadi S-P-K.
Memperluas
kalimat tunggal tidak hanya terbatas seperti pada contoh-contoh di
atas. Tidak tertutup kemungkinan kalimat tunggal seperti itu diperluas
menjadi dua puluh kata atau lebih. Kalimat itu dapat diperluas dengan
menggunakan kata keterangan, antara lain terdiri atas: (a) keterangan
tempat, seperti di sini, dalam ruangan tertutup, lewat Yogyakarta, dan
sekeliling kota; (b) keterangan waktu, seperti setiap hari, pada pukul
19.00, tahun depan, kemarin sore, dan minggu kedua bulan ini; (c)
keterangan alat seperti, dengan linggis, dengan undang-undang itu,
dengan sendok dan garpu, dengan wesel pos, dan dengan cek; (d)
keterangan modalitas, seperti harus, barangkali, seyogyanya,
sesungguhnya, dan sepatutnya; (e) keterangan cara, seperti dengan
hati-hati, seenaknya saja, dan dengan tergesa-gesa; (f) keterangan aspek
seperti, akan, sedang, sudah, dan telah; (g) keterangan tujuan, seperti
agar bahagia, supaya tertib, dan bagi kita; (h) keterangan sebab
seperti, karena tekun, sebab berkuasa, dan lantaran panik; (i)
keterangan aposisi, yaitu keterangan yang sifatnya saling menggantikan,
seperti penerima Kalpataru, Abdul Rozak, atau Gubernur DKI Jakarta.
Terdapat perbedaan anatara keterangan alat dan keterangan cara, yaitu sebagai berikut;
Dengan + kata benda = keterangan alat
Dengan + kata kerja/kata sifat = keterangan cara.
Contoh
kalimat yang menggunakan keterangan alat ‘Adik menggali lubang dengan
menggunakan cangkul’, dan contoh kalimat yang menggunakan keterangan
cara ‘Adik berlari dengan tergesa-gesa’.
-
Majemuk Majemuk Setara
Kalimat
majemuk setara terdiri dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat
majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut.
-
Dua
kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta
jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut
kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh:
Kami membaca.
Mereka menulis.
Dari contoh di atas, maka kalimat mejemuk setaranya ialah ‘Kami membaca dan mereka menulis’.
Tanda koma dapat digunakan jika kalimat yang digabungkan itu lebih dari dua kalimat tunggal.
Contoh:
Direktur tenang.
Karyawan duduk teratur.
Para nasabah antre.
Direktur tenang, karyawan duduk teratur, dan para nasabah antre.
-
Kedua
kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan
oleh kata, tetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan
hasilnya disebut kalimat majemuk setara pertentangan.
Contoh:
Amerika dan Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.
Kata-kata
penghubung lain yang dapat digunakan dalam menghubungkan dua kalimat
tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan ialah kata sedangkan
dan melainkan seperti kalimat berikut.
Contoh:
Puspiptek terletak di Serpong, sedangkan Industri Pesawat Terbang Nusantara terletak di Bandung.
Ia bukan peneliti, melainkan pegulat.
-
Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.
Contoh:
Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan namanama juara MTQ tingkat dewasa.
-
Dapat
pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika
kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk
setara pemilihan.
Contoh:
Para
pemilik televisi membayar iuran televisinya di kantor pos yang
terdekat, atau para petugas menagihnya ke rumah pemilik televisi
langsung.
-
Kalimat Majemuk tidak Setara (Bertingkat)
Kalimat
majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan satu
suku kalimat atau lebih yang tidak bebas (terikat). Jalinan kalimat ini
menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur
gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat,
sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat,
tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain
diungkapkan dalam anak kalimat.
Misalnya:
-
Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern. (tunggal)
-
Mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer. (tunggal)
-
Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Telah
dikatakan di atas bahwa kalimat majemuk bertingkat terbagi dalam bentuk
anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat ialah inti gagasan,
sedangkan anak kalimat ialah pertalian gagasan atau merupakan penjelasan
dengan hal-hal lain. Penanda anak kalimat yan sering digunakan ialah
kata walaupun, meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau,
sebab, agar, supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, sebelum,
kendatipun, bahwa, dan sebagainya.
-
Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat
jenis ini terdiri atas kalimat majemuk tak setara (bertingkat) dan
kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan
kalimat majemuk taksetara (bertingkat).
Misalnya:
-
Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.
-
Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.
Dari
contoh kalimat kedua, terdiri atas induk kalimat yang berupa kalimat
majemuk setara, yaitu ‘kami pulang, tetapi mereka masih bekerja’, dan
anak kalimat ‘karena tugasnya belum selesai’. Jadi, susunan kalimat
kedua adalah kalimat majemuk setara + bertingkat.
-
Jenis Kalimat Menurut Bentuk Gayanya
Tulisan akan lebih efektif jika di samping kalimat-kalimat yang disusunnya benar, juga gaya penyajiannya (retorikanya)
menarik perhatian pembaca. Walaupun kalimat-kalimat yang disusunnya
sudah gramatikal, sesuai dengan kaidah, belum tentu tulisan itu
memuaskan pembacanya jika segi retorikanya tidak memikat. Kalimat akan
membosankan pembacanya jika selalu disusun dengan konstruksi yang
monoton atau tidak bervariasi. Misalnya, konstruksi kalimat itu selalu
subjek-predikat-objek-ketengan, atau selalu konstruksi induk
kalimat-anak kalimat. Hal itu akan membuat bosan para pembacanya.
Gaya
penyampaian atau retorikanya, kalimat majemuk dapat digolongkan menjadi
tiga macam, yaitu (1) kalimat yang melepas (induk-anak), (2) kalimat
yang klimaks (anak-induk), dan (3) kalimat yang berimbang (setara atau
campuran).
-
Kalimat yang Melepas
Yaitu jika
kalimat itu disusun dengan diawali unsur utama, yaitu induk kalimat dan
diikuti oleh unsur tembahan (anak kalimat), gaya penyajian kalimat itu
disebut melepas. Gaya penyajian itu melepas karena unsur anak kalimat
ini seakan-akan dilepaskan saja oleh penulisnya dan kalaupun unsur ini
tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap tanpa anak kalimat.
Misalnya:
-
Saya akan dibelikan vespa oleh Ayah jika saya lulus ujian sarjana.
Jika
diresapi, kalimat yang sebenarnya hanyalah ‘Saya dibelikan vespa oleh
Ayah’. Walaupun tanpa anak kalimat, kalimat tersebut sudah lengkap.
-
Kalimat yang Klimaks
Adalah jika
kalimat itu disusun dengan diawali oleh anak kalimat dan diikuti oleh
induk kalimat. Gaya penyajian kalimat itu disebut berklimaks. Pembaca
belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak kalimatnya.
Pembaca akan memahami makna kalimat itu setelah membaca induk
kalimatnya. Sebelum kalimat itu selesai, terasa bahwa ada sesuatu yang
masih ditunggu, yaitu induk kalimat. Oleh karena itu, penyajian kalimat
yang konstruksinya anak-induk terasa berklimaks, dan terasa membentuk
ketegangan.
Contoh:
Setelah 138 hari disekap dalam sebuah ruangan, akhirnya tiga sandera warga negara Indonesia itu dibebaskan juga.
-
Kalimat yang Berimbang
Jika
kalimat itu disusun dalam bentuk majemuk setara atau majemuk campuran,
gaya penyajian kalimat itu disebut berimbang karena strukturnya
memperlihatkan kesejajaran yang sejalan dan dituangkan ke dalam bangun
kalimat yang bersimetri.
Misalnya :
Ketiga
gaya penyampaian tadi yaitu, kalimat yang melepas, kalimat yang
klimaks, dan kalimat yang berimbang, semua terdapat pada kalimat
majemuk. Adapun kalimat pada umumnya dapat divariasikan menjadi kalimat
yang panjang-pendek, aktif-pasif, inversi, dan pengedepanan keterangan.
-
Jenis Kalimat Menurut Fungsi
Menurut
fungsinya, jenis kalimat dapat dirinci menjadi kalimat pernyataan,
kalimat pertanyaan, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Semua jenis
kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif dan negatif. Dalam
bahasa lisan, intonasi yang khas menjelaskan kapan kita berhadapan
dengan salah satu jenis itu. Dalam bahasa tulisan, perbedaannya
dijelaskan oleh bermacam-macam tanda bacanya.
-
Kalimat Berita/Pernyataan (Deklaratif)
Kalimat
berita atau pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu
dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan
berbahasanya. Kalimat berita dapat berupa bentuk apa saja, asalkan
isinya merupakan pemberitaan. Dalam bentuk tulisnya, kalimat berita
diakhiri dengan tanda titik (.), sedangkan dalam bentuk lisan, suara
berakhir dengan nada turun.
Contoh kalimat Positif:
Presiden SBY mengadakan kunjungan ke luar negeri.
Negatif:
Dalam pameran tersebut para pengunjung tidak mendapat informasi yang
memuaskan tentang bisnis komdominium di kota-kota besar.
-
Kalimat Tanya (Interogatif)
Kalimat tanya
dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban)
yang diharapkan. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca tanda tanya).
Pertanyaan sering menggunakan kata tanya seperti apa, siapa, dimana,
mengapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas.
Contoh kalimat Positif: Kapan Saudara berangkat ke Singapura?
Contoh Negatif: Mengapa tidak semua fakir miskin di negara kita dapat dijamin penghidupannya oleh negara?
-
Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)
Kalimat
perintah dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang
berbuat sesuatu. Perintah dan permintaan jika ditinjau dari isinya,
dapat digolongkan menjadi enam, yaitu:
-
perintah biasa, jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu;
contoh: Masuk!
-
perintah halus, jika tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilakan lawan bicara sudi berbuat sesuatu;
contoh: Tolong buatkan Saya kopi.
-
permohonan, jika pembicara, demi kepentingannya, meminta lawan bicara berbuat sesuatu;
contoh: Mohon surat ini ditandatangani.
-
ajakan dan harapan, jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu;
contoh: Ayo ikut Aku.
-
larangan atau perintah negatif, jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu;
contoh: Jangan dekati mobil itu.
-
pembiaran, jika pembicara minta agar jangan dilarang.
contoh: Biarkan saja ia pergi.
Ciri-ciri
kalimat imperatif ialah biasanya menggunakan intonasi menurun; tanda
baca titik atau tanda seru, dan pelaku tindakan tidak selalu terungkap.
-
Kalimat Seruan
Kalimat
seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat”
atau yang mendadak. (Biasanya, ditandai oleh menaiknya suara pada
kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada kalimat
tulis).
Misalnya: Nah, ini dia yang kita tunggu.
-
Kalimat Efektif
Kalimat
efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali
gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang
ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Kalimat sangat mengutamakan
keefektifan informasi itu, sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin.
Sebuah
kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur,
keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan
penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa. Berikut akan
dipaparkan.
-
Kesepadanan
Yang
dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan)
dan struktur bahasa yang kita pakai. Kesepadanan kalimat ini
diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran
yang baik. Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, sebagai
berikut:
-
Kalimat
itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek
atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak
efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan
dengan menghindarkan pemakaian kata depan di-, dalam, bagi, untuk, pada,
sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
Pada
kalimat tersebut kurang benar, karena mencantumkan kata bagi.
Sebenarnya, tanpa kata bagi-pun, tidak akan mengurangi sedikit pun
maksud dari kalimat tersebut. Jadi sebaiknya adalah ‘Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah’.
-
Tidak terdapat subjek yang ganda
Dalam penggunaan kalimat yang efektif, menggunakan
subjek yang ganda, dapat menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu,
penggunaan subjek yang ganda harus dihindarkan. Sebagai contoh;
‘Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen’. Dari kalimat itu
dapat diperbaiki sehingga menjadi,’Dalam menyusun laporan itu, saya
dibantu oleh para dosen’.
-
Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh:
Perbaikan
kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah
kalimat itu menjadi kalimat majemuk. Kedua, gantilah ungkapan penghubung
intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut.
Atau
-
Predikat kalimat tidak didahului oleh kata ‘yang’.
Contoh: Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
Sebaiknya. Kalimat di atas berbunyi; Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
-
Keparalelan
Dalam
hal ini, yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata
yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama
menggunakan nomina, bentuk kedua juga menggunakan nomina.
Contoh:
Kalimat di atas
tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili
predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu ‘dibekukan’ dan
‘kenaikan’. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua
bentuk itu menjadi ‘Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara
luwes’.
-
Ketegasan
Ketegasan atau
penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat.
Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi
penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk
membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu (a) meletakkan kata yang
ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat); (b) membuat urutan
kata yang bertahap;
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah
disumbangkan kepada anak-anak terlantar. Seharusnya: Bukan seratus,
seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan
kepada
anak-anak terlantar.
(c) melakukan pengulangan kata (repetisi);
(d) melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan. Contoh: Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
(e) mempergunakan partikel penekanan (penegasan)
-
Kehematan
Kehematan dalam
kalimat efektif adalah hemat dalam menggunakan kata, frasa, atau bentuk
lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus
menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat.
Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang
tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
-
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek. Contoh:
Perbaikan kalimat itu yaitu: Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
-
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh: Ia memakai baju warna merah.
Pada
kalimat itu kurang baik karena kata merah, sudah mencakupi kata warna.
Jadi kalimat yang seharusnya ‘Ia memakai baju merah’.
-
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya: Para tamu-tamu. Dari kalimat itu, merupakan kalimat yang menggunakan kata jamak, sehingga dalam kalimat tersebut salah.
-
Kecermatan
Cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
Pada
kalimat di atas, memiliki beberapa tafsiran apakah teman saya di ruah
sedang sakit, atau teman saya sakit, namun di rumah sakit. Oleh karena itu, kalimat yang efektif harus menjauhkan dari kalimat yang menimbukan ambigu, dan tepat dalam peilihan katanya.
-
Kepaduan
Kepaduan ialah
pernyataan padu yang digunakan dalam kalimat, sehingga informasi yang
disampaikannya tidak terpecah-pecah. Kalimat yang padu itu:
-
tidak
bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
Oleh karena itu, kita hidari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
-
kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh: Surat itu saya sudah baca.
Kalimat
di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan
verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk ‘Surat itu sudah saya baca’.
-
Kalimat
yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti ‘dari pada’ atau
‘tentang’ antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini
Seharusnya: Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
-
Kelogisan
Kelogisan berarti bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal pembaca dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Contoh:
Kalimat
itu tidak logis (tidak masuk akal) karena yang telah meninggal tidak
akan mungkin bisa berjalan. Jadi, penggunaan kalimat yang benar yaitu
‘Sebelum meninggal, wanita yang mayatnya ditemukan itu sering
mondar-mandir di daerah tersebut’.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
-
Simpulan
Penggunaan kalimat yang benar, harus mengikuti pola
atau kaidah yang telah ditetapkan atau disetujui oleh khalayak. Dapat
pula mengukuti kaidah yang sudah ada pada buku Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia. Kesalahan itu terjadi, karena pengguna tidak memelajari atau
kurang paham tentang tata bahasa. Oleh sebab itu, harus dapat
menggunakan kalimat yang benar.
-
Saran
Dalam menggunakan bahasa (baik lisan maupun tulis), diharap dapat menggunakannya sesuai kaidah yang dibenarkan.
DAFTAR RUJUKAN
Alwi, Hasan., Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, danAnton M. Moeliono. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. 1988. Tata Bahasa Praktis. Jakarta: Bhratara.
Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. 1975a. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kedudayaan. Edisi Kedua.
.1975b. Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Edisi Kedua 1988. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoan Umum Pembentukan Istilah. Cet VII. Bandung: Pustaka Setia.
Wikipedia, 31 10 2008.