Wednesday, 6 June 2012

  TRAGEDI WINKA & SIHKA

Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri


 
             kawin
                     kawin
                              kawin
                                      kawin
                                                    kawin
                                              ka
                                          win
                                       ka
                                  win
                              ka
                          win
                      ka
                win
            ka
                winka
                        winka
                                winka
                                        sihka
                                                sihka
                                                        sihka
                                                                sih
                                                            ka
                                                        sih
                                                    ka
                                                sih
                                            ka
                                        sih
                                    ka
                                sih
                            ka
                                sih
                                    sih
                                        sih
                                            sih
                                                sih
                                                    sih
                                                        ka
                                                            Ku
        Memahami Puisi, 1995
        Mursal Esten



Ketika Saya memberikan materi tentang puisi, yakni puisi Sutardji C. Basri, tiba-tiba peserta didikku tertawa.
Saya: "Apa yang ditertawakan?"
Siswa: "Lucu pak, kalaw dari bait-bait itu dibaca cepat".
dan siswa lain ikut tertawa.

Puisi tersebut di atas karya Sutardji memang mengagumkan. Betapa tidak,  secara normal seseorang mengartikan bahwa puisi tersebut tidak bermakna. tipografi yang ditampilkan Sutardji tidak seperti biasanya. tidak mengikat seperti puisi dahulu yang terikat oleh baris, bersajak abab, dll.Namun di sisi seorang pengunyah puisi, puisi dari Sutardji makanan yang nikmat untuk rohani.
Betapa tidak, pesan yang disampaikan Sutardji begitu dalam untuk semua orang yang sudah berumah tangga. Dari puisi Tragedi Sihka dan Winka yang menghadirkan kata kasih dan "kawin", satu hal yang dapat kita petik adalah rasa kasih sayang ternyata mampu mengikat berbagai budaya dalam tali perkawinan. Seyogyanya rasa kasih itu patut dijaga agar tidak perlu timbul berbagai tragedi dan jalan kehidupan yang berkelok-kelok dan melelahkan. 
Tragedi yang sebenar-benarnya dalam kehidupan kita adalah hampir hilangnya rasa kasih dalam setiap sendi kehidupan. Hal ini tidak dapat kita pungkiri dan kian hari keadaan ini kian nyata. Tentu dapat kita bayangkan akan berapa banyak lagi tragedi yang akan terjadi setelah terkikisnya kasih di antara sesama manusia. Sepatutnya kita berusaha menjaga kasih itu agar tidak perlu patah, atau berubah menjadi benci. Kasih sayang bukanlah penyebab utama adanya perkawinan. Namun, tanpa adanya kasih sayang tidak akan ada perkawinan yang indah.
Dari puisi ini kita dapat memaknai kasih dan kawin dari sudut pandang yang lain, serta mengenali sebuah tragedi lebih dekat. Dengan membudayakan kasih sayang sesama manusia, tidak hanya perkawinan yang akan terselamatkan, tetapi juga turut mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Baik sebagai makhluk sosial, maupun sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dikaruniai akal budi.








Makna Puisi Tragedi Winka dan Sikha

Friday, 1 June 2012

Cinta

Sunggingan senyum di sudut bibirmu
Menusuk diriku
Hingga jatuh ke dalam sumur tanpa dasar
Tenggelam di tengah lautan
Cahaya cintamu yang menembus langit hitam ditebali jelaga
Membuat aku pengecut
Saat rembesan air mata
Jatuh ke kelopak mata

Puisi

Wednesday, 9 May 2012

PROLOG

Jika semua telah ada
Perlahan dan pastikan aku menuju kota harapan
Impian

Tengadah tangan berdoa,
"Tuhan...
Setiap langkahku menuju jalan-Mu
Harapanku adalah arah mana yang menjadi baikku
Merasakan sejuknya embun yang kau turunkan
Lewat manusia yang ku cinta.
Tuhan...
Jadikan ia sebagai seorang yang menjadikan imanku tebal
Laksana rumput yang tahan diterpa topan
Karena-Mu yakin adalah jalanku"

disela-sela luangku, ku sibukkan dengan ingat kepada-Mu.

Tuhan...
Jadikan ia nyata bagiku.

4 tahun lalu

Prolog

Tuesday, 3 April 2012

 Resensi Novel Sang Pencerah


1. IDENTITAS BUKU
Judul buku : Sang Pencerah
Jenis buku : Fiksi
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Mizan
Tahun terbit : Agustus 2010
Jumlah Halaman :
2. SINOPSIS
Muhammad Darwis adalah seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan kasultanan Yogyakarta, orang tuanya berlatar belakang ulama. Sejak kecil Darwis memang terlihat Kritis, dan mengkritisi tradisi yang beranak pinak di daerahnya. Sepulangnya ia menuntut Ilmu di Mekkah, Darwis mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan.
Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah /sesat. Melalui Langgar / Surau nya Ahmad Dahlan mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat sehingga surau Ahmad Dahlan diroboh paksakan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai "Kejawen" hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah dan lima murid murid setianya : Sudja, Sangidu, Fahrudin, Hisyam, dan Dirjo. Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.
3. KESIMPULAN
Novel ini mengajak kita untuk mengenal lebih dalam pembentuk organisasi Muhammadiyah. Novel ini baik dibaca siapa saja. Dewasa, remaja, anak-anak maupun orang tua sekalipun. Dalam novel ini kita akan diajak merenung, menjelajahi islam yang sebenarnya yang sesuai syariat Ilsam.
Namun pada sisi laian pada gaya penulisan novel tersebut kurang mempertegas di mana latar itu terjadi.

Resensi Novel Sang Pencerah

 
KELAS KATA © 2015 - Designed by Templateism.com | Distributed By Blogger Templates